Samn0body's Blog

Posts Tagged ‘teman

Hari ini aku mendapatkan sebuah hadiah yang terbaik yang pernah aku terima. Sebuah hadiah ulangtahun yang indah dari teman-temanku. Sebuah hadiah yang tidak bisa digenggam namun dapat dilihat dan dirasakan. Sebuah hadiah yang menggugah hati. Membuat airmataku meleleh. Sebuah video persahabatan.

Buat Renata (I know you know this is your name here) dan Gabby (you must already know also, right?) dan dua temanku yang lain yang namanya tidak pernah tersebutkan di sini dengan nama asli maupun nama samaran walau nama keduanya selalu akan menghiasi hidupku, thanks a lot! It is the nicest present I have ever gotten! Love you guys a lot!

Thank you for being my friends even though I am me. Thank you for accepting me the way I am. Coming out to you I thought would be hard and scary, but I was wrong. It was easy and I was so relieved! This friendship is, and will always be, the best thing in my life.

Love love love you.

Tags: ,

Kemarin malam ada yang lucu. Di antara acara shopping aku mendapati diriku kebosanan. Akhirnya aku keluar dari area belanja dan mengeluarkan hapeku. Kucari nama Gabby dari phone listku. Deringan ketiga diangkat.

Gabby (G): Ada apa, Sam? (ada suara makanan yang sedang dikunyah)

Aku (A): Lagi makan ya, Gab?

G: Iya nih. Mau?

A: Nggak deh, makasih. Uda mam.

G: (tertawa kecil) Tumben.

A: (tertawa kecil) Sama siapa?

G: Alone.

A: Kesiannya. Gab, soal liburan. Uda ijin cuti belum?

G: Belum dong. Lagian kan, kamu belum kasi tanggal pastinya kamu ke sini.

A: Yah, sekitar awal Juli gitu deh.

G: Yah sudah, nanti aku minta ijinnya.

A: Gab, kayanya aku mau ajak Windy sekalian juga.

G: What? Terus nanti kamu sama dia mau nginap di kost ku?!

A: (sensi) Ke hotel aja.

G: Nggak boleh!

A: Apaan sih, Gab. Terus kami mau tinggal di mana? Kan gak lucu ngajakin dia tidur di jalan.

G: Kenapa gak di tempatku aja?

A: Lah habis kamu tadi nadanya kaya gitu. Aku sangkain gak boleh kalau di kosmu.

G: Di tempatku aja. Mau jadi apa nanti kalau kalian sekamar berdua.

A: (tertawa)

Pikiranku langsung menerawang jauh. Membayangkan aku dan Windy sekamar berdua  di kamar hotel saja sudah menggundang reaksi seperti ini, bagaimana bila aku mengatakan bahwa aku dulu berfikir untuk sekost berdua dengan Windy. Ya, memang sayangnya aku tidak jadi mudik kembali ke Jakarta dalam waktu dekat, namun tetap saja. Suatu hari nanti mungkin kami akan sekota lagi.

Tags: , ,

Wanita itu. Aku tidak terlalu mengenalnya. Dia temannya temanku. Sudah lebih dari dua minggu ini dia menghubungiku tanpa henti. Niat pedekatenya kental sekali.Pernah sekali aku keluar dengannya, namun lama kelamaan aku bosan. Dia terlalu banyak bicara tentang dirinya sendiri. Aku sampai muak.

Maka, sengaja aku tidak membalas pesan singkat dan teleponnya. Sengaja tampil offline khusus untuknya di YM. Aku merasa bersalah kadang, but what the hell! Hidup terasa sangat penat ketika dia terus mengocehkan tentang hidupnya yang penuh dengan bencana dan penyakit. I wanna yell to her, “Stop complaining! And, can we talk about anything BUT YOU?”

Namun aku tak kuasa menyemburkan kata-kata itu di depan mukanya, maka aku hanya dapat menuliskannya di sini. Sambil mengetikkan ini, aku berfikir sendiri, apa aku pernah dianggap seperti ini oleh orang lain? Apa aku akan mendapatkan karma buruk karena menyuekin dia? Haduh, bisa berabe!

Kemarin malam, di antara kerumunan teman-teman lama, aku tersentak ketika kata “lesbian” terucap dari bibir seorang teman. Ivan teman lamaku ketika itu sedang bercanda mengenai Yacob, yang dulu memang sangat feminim untuk ukuran seorang anak laki-laki, dan Susan temanku yang lain, yang hingga kini masih saja sangat kasar dan kelaki-lakian.

Nasi yang sedang kukunyah tiba-tiba terasa hambar. Tanganku berhenti menyobek-nyobek ayam bakar yang ada di depanku. Semua panca inderaku dengan awas mengikuti arah pembicaraan berikutnya.

“Yacob tuh cocok buat kamu, Susan. Satunya gay, satunya lagi lesbian. Saling melengkapi,” canda Ivan. Yang lain tertawa, aku hanya meringis.

“Jangan sensi gitu dong ke Yacob, Van. Masih dendam yah gara-gara ditolak sama dia dulu?” candaku balik ke Ivan. Yang lain tertawa lebih keras lagi dan kemudian ikut-ikutan mencandai teman kami itu.

“Anyway, sekarang Yacob macho banget kali! Loe aja kalah, Van,” kataku lagi. Tidak rela teman baik masih diasosiasikan dengan embel-embel lemah dan banci, aku meng-up-to-date kabar terbaru dari Yacob yang karirnya sangat cemerlang di dunia NGO dan kini mendapatkan beasiswa untuk belajar di Belanda. Aku sangat bangga padanya.

Malam itu sama seperti malam-malam biasa ketika aku hang out dengan mereka. Topik mengenai masa sekolah kami selalu menjadi favorit semua, kecuali mungkin untuk beberapa teman di sana yang memang bukan satu almamater dengan kami. Namun selalu saja ada yang lucu untuk ditertawakan semua.

Memang aku masih dapat menikmati malam itu, namun ketika aku baringan di ranjangku malam itu, pikiranku tak bisa tenang. Lama aku resah dan tidak bisa memejamkan mataku tanpa memikirkan pembicaraan tadi.

Mataku melirik jam waker di samping ranjangku. Sudah jam 2 pagi dan tidak ada tanda-tanda aku akan tertidur dalam waktu dekat. Akhirnya aku menyerah. Kulempar bedcover yang sedari tadi menghangatkan tubuhku dari dinginnya malam dan bergerak menjauh dari ranjang. Kubuka tas kerjaku dan mengeluarkan laptopku. Lebih baik kerja daripada tidak bisa tidur.

Aku sayang dan jatuh cinta pada satu wanita, namun kadang aku pun masih suka melirik yang lain. It’s human I think. Jadi, seperti biasa, aku tau ketika aku melangkah ke lapangan bulu tangkis di sekolah aku akan menemukan dia di sana. Dia seorang guru juga, namun berbeda level denganku. Dia mengajar taman kanak-kanak. Sebut saja namanya Maria.

Hari Rabu pagi. Anak-anak didik kami sama-sama memiliki aktifitas di luar kelas. Anak-anak didikku olahraga, anak-anaknya senam pagi. Sudah lebih dari setengah tahun kami bertemu di lapangan itu dan tidak saling menyapa (namun saling berbalas senyum ketika berpapasan). Ketika dia sibuk mengatur anak-anak didiknya yang masih kecil-kecil, aku sibuk meliriknya sambil bermain badminton bersama partner mengajarku yang juga suka berkeringat.

Seharusnya aku di ruanganku dan berkutat dengan koreksian yang menumpuk. Namun menggunakan moto hidup, “semua harus seimbang, antara otak dan jasmani,” aku dan partner mengajarku itu selalu turun ke bawah untuk berolahraga sekali dalam seminggu. Sama seperti anak-anak didik kami. Walau sebenarnya motifku tidak sepenuhnya untuk olahraga saja. Haha!

Pagi kemarin, seperti biasa, jam 8 pagi aku sudah turun ke bawah. Sambil menunggu temanku yang sedang berganti baju, aku duduk dan mengarahkan pandanganku ke arahnya. Mudah bagiku menyamarkan arah pandanganku karena di sana juga banyak anak-anak didiknya yang lucu-lucu.

Tingkah mereka yang menggemaskan sama menariknya dengan guru mereka yang berambut bob dan berbusana chic. Kami tidak menggunakan seragam. Dia juga berkacamata, kadang-kadang. Aku lebih suka dia tidak berkacamata. Ketika dia menggerakkan badan bersama murid-muridnya, kadang kala nafasku tertahan. Damn, she’s hot. Namun kadang juga lucu. Suaranya seperti hujan yang membasahi bumi yang panas terpanggang matahari. Tawanya seperti angin sepoi-sepoi yang menyegarkan. Tatapan matanya.. oh, tatapan matanya. Menyejukkan.

Sial, aku kedengaran seperti seorang mata keranjang saja. Anyway, senang rasanya bisa ‘berolahraga’ pagi seperti ini.

Tags: , ,

Posesif

Posted on: May 14, 2010

Beberapa malam yang lalu, aku bersama Wani dan beberapa teman pergi ke rumah salah seorang teman yang sedang berulang tahun. Sebut saja namanya Yeni.

Sesampainya di rumah Yeni, seperti biasa kami mengeluarkan kue tart yang kami beli, menancapkan lilin ulangtahunnya dan menyalakannya. Dari luar pintu kami memanggil nama teman kami itu dan mulai menyenandungkan lagu “Happy Birthday” ketika wajah Yeni nampak dari balik pintu.

Lilin ditiup. Kami saling bercipika-cipiki-an dan kemudian diundang masuk ke dalam ruang tamu. Kue dipotong dan dibagi-bagikan untuk dijadikan camilan sambil bercengkrama. Ritual biasa.

Aku sedang tertawa geli ketika hapeku bergetar. Ada panggilan masuk. Lanny. Seorang teman lama yang baru kukenal kembali. Teman satu hobby. Ratu karaoke dan dugem.

Entah mengapa aku secara otomatis berdiri dan berjalan keluar untuk mengangkat panggilan telepon itu. Sebenarnya panggilan itu tidaklah romantis bagiku karena Lanny hanyalah temanku, walau aku agak curiga dia memiliki rasa untukku.

Anyway, ketika aku kembali dan bergabung kembali dengan teman-teman aku baru merasakan bodohnya tindakanku itu. Wani yang sedari tadi duduk agak jauh dariku tiba-tiba menggeser pantatnya dan duduk dekat sekali denganku. Biasanya dia selalu menjaga jarak denganku. Dan aku yang sudah terbiasa begitu merasa aneh sendiri begitu dia menyandarkan kepalanya dengan manja ke pundakku. Oh, no!

Teman-teman yang lain sepertinya tidak terlalu merasa aneh, karena mereka sedang sibuk dengan cengkrama mereka sendiri.

“Kamu kenapa?” tanyaku, namun tak menggeser badanku sedikitpun.

“Ngantuk,” jawab Wani pendek. Dia juga tidak bergerak. Kurasakan badanku semakin kaku karena aku tidak ingin bergerak sedikitpun. Ketika Santy datang, baru aku dapat bernafas lega. Wani menarik kepalanya dan aku bisa bergerak lagi.

I hate this. Aku lebih suka Wani yang lucu dan rileks. Bukan Wani yang posesif seperti ini, dan kemudian menjaga jarak. It sucks.

Tags:

Kemarin malam Mama berdiskusi denganku tentang adik bungsuku, Velin. Sudah lebih dari sebulan ini dia menganggur di Jakarta. Terakhir dia bilang dia sudah mendapatkan pekerjaan, namun masih binggung mau menerimanya atau tidak. “Oh my,” pikirku.

Mama memulai dengan sejumput fakta-fakta saja, belum opininya. Aku sudah tau pasti apa opininya. Dia selalu ingin Velin untuk pulang dan bekerja saja di kota kami. Lebih dekat lebih baik, kata Mama dulu. Dan ini hanya berlaku untuk aku, Velin dan Rizal, adikku yang satu lagi. Abangku sudah terlanjur berkarir di Jakarta dan karirnya terlalu bagus untuk ditinggalkan. Apalagi kini abangku telah berkeluarga di sana.

Mama tidak menyuarakan pikirannya kali ini. Namun aku tau dia ingin Velin pulang. Kadang aku merasa Mama benar, namun itu tidak adil bagi Velin. Setidaknya dia diberikan kesempatan untuk berkembang. Namun tetap saja aku sama khawatirnya dengan Mama.

Aku diam saja. Mendengarkan saja. Memberi komentar bila diperlukan. Mama sepertinya mengerti. Maka kemudian kami berbicara tentang yang lain. Mama meneruskan aktifitas memasaknya dan aku kembali menatap layar monitor laptopku. Masih ada tugas dari kantor yang harus kuselesaikan. Deadlinenya besok.

Tak berapa lama, hapeku bergetar. Ada pesan masuk, tak berapa lama kemudian ada panggilan masuk. Riri. “Karaoke yuk!” katanya begitu aku mengangkat telepon. Aku tertawa dan kemudian mengiyakan. Setengah jam kemudian, tugasku dan masalah di rumah menguap seperti asap rokok.


Top Rated

July 2017
M T W T F S S
« Jun    
 12
3456789
10111213141516
17181920212223
24252627282930
31