Samn0body's Blog

Posts Tagged ‘kerja

Beberapa minggu lagi tahun ajaran akan segera berakhir dan kontrak kerja akan diperpanjang lagi untuk satu tahun ke depan. Sebelum disodorkan lembar kontrak itu aku ingin merasa yakin bahwa aku benar-benar mau meneruskan pekerjaan ini.

Hampir setahun aku mengajar di tempat kerjaku sekarang, banyak hal yang baik dan buruk yang kutemukan. Aku belajar banyak di sini, baik ilmu dan pengalaman. Aku melihat ada jenjang karir di sini. Dan program pendidikan di sini membuatku tertarik. Tidak semua sekolah bisa menawarkan program seperti ini. Jaringannya pun luas, hingga ke luar negeri. Ini adalah kesempatanku untuk menimba ilmu sebanyak-banyaknya.

Namun yang membuatku ragu adalah apakah aku mampu melewatkan satu tahun lagi menghadapi anak-anak didikku. Usia mereka yang masih sangat belia menjadi semacam tantangan bagiku. Mereka sangat berisik.

Aku tidak tahan dengan suara bising. Setiap kali mereka ribut, aku merasa kepalaku akan meledak. Setahun ini aku benar-benar melatih kesabaranku dan keahlianku memarahi anak-anak didikku. Semakin hari aku merasa aku menjadi guru yang semakin garang. Anak didikku sampai menjuluki Madam Angry Bottom. Aku kini sangat mahir dengan memberikan refleksi kepada anak-anak didikku.

Kalau boleh kubilang, satu-satunya hal yang membuatku ragu adalah masalah ini. Aku tidak tahan dengan anak-anak kecil yang berisik!Kadang aku ketakutan sendiri kepalaku akan dipenuhi tumor karena terlalu stress. (hahaha)

Advertisements
Tags:

Aku sayang dan jatuh cinta pada satu wanita, namun kadang aku pun masih suka melirik yang lain. It’s human I think. Jadi, seperti biasa, aku tau ketika aku melangkah ke lapangan bulu tangkis di sekolah aku akan menemukan dia di sana. Dia seorang guru juga, namun berbeda level denganku. Dia mengajar taman kanak-kanak. Sebut saja namanya Maria.

Hari Rabu pagi. Anak-anak didik kami sama-sama memiliki aktifitas di luar kelas. Anak-anak didikku olahraga, anak-anaknya senam pagi. Sudah lebih dari setengah tahun kami bertemu di lapangan itu dan tidak saling menyapa (namun saling berbalas senyum ketika berpapasan). Ketika dia sibuk mengatur anak-anak didiknya yang masih kecil-kecil, aku sibuk meliriknya sambil bermain badminton bersama partner mengajarku yang juga suka berkeringat.

Seharusnya aku di ruanganku dan berkutat dengan koreksian yang menumpuk. Namun menggunakan moto hidup, “semua harus seimbang, antara otak dan jasmani,” aku dan partner mengajarku itu selalu turun ke bawah untuk berolahraga sekali dalam seminggu. Sama seperti anak-anak didik kami. Walau sebenarnya motifku tidak sepenuhnya untuk olahraga saja. Haha!

Pagi kemarin, seperti biasa, jam 8 pagi aku sudah turun ke bawah. Sambil menunggu temanku yang sedang berganti baju, aku duduk dan mengarahkan pandanganku ke arahnya. Mudah bagiku menyamarkan arah pandanganku karena di sana juga banyak anak-anak didiknya yang lucu-lucu.

Tingkah mereka yang menggemaskan sama menariknya dengan guru mereka yang berambut bob dan berbusana chic. Kami tidak menggunakan seragam. Dia juga berkacamata, kadang-kadang. Aku lebih suka dia tidak berkacamata. Ketika dia menggerakkan badan bersama murid-muridnya, kadang kala nafasku tertahan. Damn, she’s hot. Namun kadang juga lucu. Suaranya seperti hujan yang membasahi bumi yang panas terpanggang matahari. Tawanya seperti angin sepoi-sepoi yang menyegarkan. Tatapan matanya.. oh, tatapan matanya. Menyejukkan.

Sial, aku kedengaran seperti seorang mata keranjang saja. Anyway, senang rasanya bisa ‘berolahraga’ pagi seperti ini.

Tags: , ,

Hari Seninku selalu diawali dengan desahan berat. Another week to bear. Can’t wait for the weekends to come. Oh my God, aku sungguh tidak mencintai pekerjaanku! Namun, sekali lagi, pasti banyak orang-orang bernasib sama denganku yang menyerukan, “Siapa yang tidak?” Yeah, at least I am not alone.

Butuh dua kali teriakan alarm untuk membuatku benar-benar meninggalkan peraduanku dari tempat tidurku yang hangat dan nyaman. Sejuta alasan tercipta di otak untuk tidak masuk kerja, namun sebanyak apapun alasan tersebut, otak kecilku selalu berkata, “Enough! Drag your ass off bed and go to work!”

Aku meninggalkan setengah nyawaku di tempat tidurku ketika aku menyeret tubuhku ke kamar mandi. Ketika air dingin mengguyur wajahku, bau sabun yang segar menghujani hidungku, aroma mint menjelajah mulutku, nyawaku bertambah seperempat.

Kukenakan setelan kerjaku yang sudah disetrika rapi dan memoleskan make up tipis di wajahku. Supaya lebih segar, parfum kusemprotkan ke belakang telingaku.

Setengah jam kemudian, aku siap berangkat. Loud music sudah menjadi hal yang wajib sejak dulu untuk membangunkan seperempat nyawa yang masih tertinggal di kamarku. Kadang kala aku memacu adrenalin dengan menyelip kendaraan satu dua kali untuk menyemangati diri sendiri. It’s bad, I know, but I just can’t help it.

Setibanya di halaman parkir tempat kerja, aku setengah yakin aku siap bertarung dengan setan-setan kecil yang setengahnya kini telah berada di ruang kelas. It’s time to fight! Spirit!

Damn! Cobalah iklan minuman suplemen mengambil tema perjuangan seorang guru pada hari Senin pagi, bukannya seorang pendaki gunung yang berjuang mendaki hingga ke puncak.

Tags:

Hari Rabu. Aku memaksakan diri untuk masuk kerja. Jam pertama dan kedua bagianku. It was tiring and stressful! Di antara batuk dan anak-anak didikku yang kurang bisa bekerja sama, demamku langsung naik kembali. I don’t think I can stand another year teaching these children. Kurasa mengajar memang bukan bidangku.

Kemarin malam Gabby telepon. She asked about things. Kami bicara tentang kerja, teman dan ‘dia’ku. Aku juga cerita tentang rencanaku untuk pindah kembali ke Jakarta dan tentu saja alasannya. Pada akhir percakapan kami, Gabby membuat sebuah pernyataan yang membuatku teringat terus. “Sam, you’ve changed.”

Aku bertanya maksud perkataannya, namun Gabby tidak mengindahkannya. Dia mengalihkan pembicaraan ke topik lain. Aku dapat saja membalikkan pembicaraan kami ke topik tadi, namun hati kecilku sebenarnya mengerti apa maksudnya. I Am changing. And I don’t want to talk about it. At least until I am sure what I am doing.

Hidupku sekarang tidak bisa dibilang sesuatu yang aku mimpikan. I mean, I am 28 years old and I still have no stability either in career and romance. Kadang aku iri dengan teman-temanku. Sebagian besar dari mereka sudah mantap dengan hidup mereka.

Beberapa dari mereka telah berkeluarga dan mantap dengan pilihan mereka. Beberapa lagi tau dengan pasti apa yang mereka kerjakan dan mantap untuk menekuninya hingga mereka tua. Bagaimana dengan aku?

Aku 28 tahun dan masih belum tau apa yang ingin aku lakukan. Aku dulu ingin sekali menjadi seorang penerjemah, dan aku pernah menjadi seorang penerjemah, namun aku meninggalkannya demi sebuah kestabilan yang diberikan oleh sebuah karir yang menjanjikan di tempat kerjaku dahulu. But it all went to hell.

Keputusasaan membawaku kembali mencari kedamaian di kota kelahiranku. Namun bukan kedamaian yang kutemu. Aku menemukan cinta lamaku dan cinta itu bersemi kembali. Sebuah identitas yang dulu kukubur dalam-dalam kini kubiarkan tumbuh dan kini akarnya telah menancap dengan kokoh di hatiku. Dan aku membiarkannya.

Karirku, kehidupan percintaanku, bukanlah sesuatu yang dapat kubangga sekarang. Aku yakin semua ini akan berubah lagi tahun berikutnya. Namun untuk sekarang, aku harus terus menjalaninya. Hingga akhirnya aku menemukan jalanku.

Tags: , ,

Bosan. Aku bosan merasa bosan terlalu sering. Hidupku sejak aku lulus kuliah selalu berjalan seperti arus saja. Terlalu banyak riak air yang muncul. Tidak ada yang menarik.

Setelah lulus kuliah aku lumayan cepat mendapatkan pekerjaan. Sesudah itu, tak berselang lama, aku mendapatkan promosi kenaikan jabatan. Walau akhirnya beberapa tahun kemudian karirku stagnan, namun dengan cepat aku mendapatkan pekerjaan baru di kota kelahiranku, sesuai dengan yang kumau. Dan sekarang, kembali aku dijanjikan sebuah promosi. Tidak sekarang, namun tahun depan. Tapi tetap saja. Bukannya semangat, aku malah bosan.

Aku tau aku kedengaran seperti orang manja yang tidak tau bersyukur. Dikasih tenang minta riak. Dikasih hati minta jantung. Namun aku yakin ada banyak orang yang merasakan hal yang sama.

Semakin tenang dan semakin normal, hidup menjadi semakin menjemukan. Sering kali kita berharap ada sesuatu yang meledak dan membuat hidup kembali menarik. Tentunya, harapan kita, ledakan itu adalah sesuatu yang baik.

Dalam waktu beberapa bulan lagi, tahun ajaran ini akan segera berakhir. Walau telah menanda-tangani perpanjangan kontrak, namun lama-lama aku merasa karir yang kujalani sekarang sama seperti karirku sebelumnya. Aku sudah dapat melihat diriku semakin mati dan bosan setengah mati nantinya.

Otakku mulai merancang sesuatu untuk kulakukan. Sesuatu yang menantang. Sebuah pikiran untuk memulai bisnis sendiri semakin sering muncul dan memberikan kilat-kilat semangat dalam kebosananku.

Tags: ,

Like always, Monday is not my favorite day. Seperti biasa, aku harus menyeret tubuhku untuk menjauh dari ranjang empukku menuju ke kamar mandi. Tak jarang sebatang rokok kunyalakan untuk memastikan mataku awas 100% . Secangkir kopi sudah menjadi hal yang wajib, kadang bergelas-gelas malah.

Sialnya, hari ini aku benar-benar telat bangun hingga lupa membawa kopi instanku. Moodku juga sedang buruk-buruknya, diperparah dengan anak-anak didikku yang berulah. Emosiku sudah naik ke ubun-ubun.

Pekerjaan masih menumpuk, aku bingung harus mulai dari mana. Deadline semakin dekat. Partner kerjaku juga sedang uring-uringan. Intinya, this Monday is like hell!

Dengan kesal kuketik status baruku di facebook, “Fell like hell. Wanna quit!” Beberapa menit kemudian, Ymku dipenuhi chat box. Di antaranya ada Julie, “Just checking. What’s wrong?” dan Gabby, “Quit dari mana?” dan beberapa teman chat yang hanya kukenal sebatas di dunia maya saja.

Kubalas message Gabby terlebih dulu, “Work. Cape ma anak2! Mereka kaya iblis hari ini.” Gabby hanya membalas dengan icon tertawa.

Dengan message Julie, aku membalas, “I hate Monday,” ditambah dengan icon muka sedih. Julie pun hanya membalas dengan icon tertawa. Mau tak mau, akhirnya aku tersenyum untuk yang pertama kalinya hari itu.

Tags:

Setelah libur selama lebih dari satu minggu, akhirnya aku masuk kerja lagi. Hariku dimulai dengan bunyi alarm dan kemudian senyuman dan jabatan tangan anak-anak didikku yang kecil-kecil.

“Good morning, Miss Sammy,” sapa mereka. Setiap kali selalu kubalas dengan senyuman dan sepatah kata, “Morning.” Aku lupa mereka lucu pada pagi hari. Yang kuingat kemarin hanyalah kebisingan mereka. Mungkin itu sebabnya aku benar-benar bad mood kemarin. Hahaha, bisa-bisanya aku lupa.

Sebenarnya pekerjaanku sekarang bukanlah cita-citaku. Seperti layaknya kebanyakan orang, aku juga pergi kerja sekedar untuk mendapatkan cairan dana ke rekeningku setiap bulannya.

Seperti layaknya orang lain juga, aku membenci hari Senin dan menunggu-nunggu hari Jumat untuk segera berakhir. Wiken selalu terasa singkat. Dan akhir bulan selalu dinanti-nanti.

Temanku sering bertanya, mengapa aku tidak ingin meneruskan pekerjaanku sebagai penerjemah. Selain itu adalah jenis pekerjaan yang kukoar-koarkan sebagai cita-citaku, kerjanya di rumah, working hoursnya kita sendiri yang menentukan, asalkan deadline selalu terkejar.

Namun aku menemukan, menjadi seorang penerjemah, sungguh sangat asosial. Yang ada di hadapanku hanyalah sebuah layar monitor dan buku-buku.

Pernah sekali, aku tidak keluar kamar selama beberapa hari karena mengejar deadline. Teman-temanku mungkin sudah mendobrak pintuku kala itu bila suara ketikan keyboardku tidak terdengar.

Setelah beberapa lama, akhirnya aku memutuskan untuk melakukan dua pekerjaan sekaligus. Mengajar supaya aku memiliki kehidupan sosial di dunia kerja, dan menerjemahkan karena aku suka.

Namun belakangan ini, sepertinya satu-satunya hal yang kulakukan hanyalah yang pertama. Lama-lama aku melihat mimpiku menguap sedikit demi sedikit.

Tags:

Top Rated

September 2017
M T W T F S S
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930