Samn0body's Blog

Posts Tagged ‘keluarga

Terdiam

Posted on: May 23, 2010

Sore kemarin aku mengungkapkan niat hatiku untuk kembali bekerja di Jakarta. Mama terdiam lama untuk berfikir. “Kamu serius?” tanya Mama. Namun sepertinya Mama tidak butuh jawabanku karena sebelum aku sempat menjawabnya, Mama meneruskan, “sebenarnya Mama dan Papa senang kamu memutuskan untuk pulang. Rumah ini sepi sekali sejak Velin pergi. Kalau kamu juga pergi, akan tambah sepi lagi.”

Bibirku terkatup rapat. Semangatku turun drastis. Aku menatap mug kopiku.

“Tapi, kalau memang kamu maunya kembali ke sana, tidak apa,” kata Mama lagi. Aku mengangkat kepalaku dan melihat ada kesedihan di mata Mama. Mengapa aku merasa seperti anak durhaka?

“Belum pasti sih, Mam. Aku cuma mikir aja, soalnya aku ditawarin kerjaan di sana dengan gaji yang lumayan,” kataku pelan. “Aku masih belum memutuskan,” kataku getir.

“Kamu pikirkan baik-baik, Sammy. Mama terserah kamu.” Aku kembali diam. Suara TV terdengar kembali. Tadi Mama me-mute-kan suara TV karena sedang azan magrib. Sinetron Mama mulai. Mataku dan Mama kembali terarah ke layar 31 inci itu. Namun isi kepalaku menerawang jauh.

Advertisements
Tags:

Kemarin malam Mama berdiskusi denganku tentang adik bungsuku, Velin. Sudah lebih dari sebulan ini dia menganggur di Jakarta. Terakhir dia bilang dia sudah mendapatkan pekerjaan, namun masih binggung mau menerimanya atau tidak. “Oh my,” pikirku.

Mama memulai dengan sejumput fakta-fakta saja, belum opininya. Aku sudah tau pasti apa opininya. Dia selalu ingin Velin untuk pulang dan bekerja saja di kota kami. Lebih dekat lebih baik, kata Mama dulu. Dan ini hanya berlaku untuk aku, Velin dan Rizal, adikku yang satu lagi. Abangku sudah terlanjur berkarir di Jakarta dan karirnya terlalu bagus untuk ditinggalkan. Apalagi kini abangku telah berkeluarga di sana.

Mama tidak menyuarakan pikirannya kali ini. Namun aku tau dia ingin Velin pulang. Kadang aku merasa Mama benar, namun itu tidak adil bagi Velin. Setidaknya dia diberikan kesempatan untuk berkembang. Namun tetap saja aku sama khawatirnya dengan Mama.

Aku diam saja. Mendengarkan saja. Memberi komentar bila diperlukan. Mama sepertinya mengerti. Maka kemudian kami berbicara tentang yang lain. Mama meneruskan aktifitas memasaknya dan aku kembali menatap layar monitor laptopku. Masih ada tugas dari kantor yang harus kuselesaikan. Deadlinenya besok.

Tak berapa lama, hapeku bergetar. Ada pesan masuk, tak berapa lama kemudian ada panggilan masuk. Riri. “Karaoke yuk!” katanya begitu aku mengangkat telepon. Aku tertawa dan kemudian mengiyakan. Setengah jam kemudian, tugasku dan masalah di rumah menguap seperti asap rokok.

Dua hari lagi, aku akan kesusahan untuk memandangi wajahnya langsung. Dua hari lagi, dia akan semakin jauh dariku. Dua hari lagi. Dua hari lagi, hidupku akan menjadi kelabu.

Seperti yang telah direncanakannya, hari Minggu ini dia akan bertolak ke Jakarta. Semua telah dipersiapkan, begitu pula dengan pesta pelepasannya.

Hari Sabtu, makan bersama di rumahnya. “Supaya lebih akrab dan leluasa,” katanya. Semua diundang. Menjadikan hari itu menjadi semakin sulit untukku.

Seminggu yang lalu, Mama memberitakan kepadaku tentang test kesehatan Papa. Darah tinggi. Rupanya beberapa hari yang lalu, Papa yang selalu menolak untuk pergi ke dokter diharuskan oleh sebuah perusahaan asuransi untuk mengambil test medis. Sayangnya test kemarin hanya test urine saja.

Papa harus test darah dan test feces dan full medical check up.  Keluarga Papa memiliki sejarah diabetes. Semua saudara-saudara kandung Papa sudah positif dinyatakan diabetes. Papa sepertinya juga iya. Papa saja yang ngeyel tidak mau dicek, sehingga belum ada pernyataan resminya.

Dua kenyataan itu menghentakku pada waktu yang hampir bersamaan. Aku akan kehilangan cintaku. Buyar sudah keinginanku untuk pergi bersamanya. Patah sudah.

Cintaku akan pergi dan aku tak bisa mengejarnya.

Di sebuah resto slash cafe. Wani menanyakan aku sebuah pertanyaan yang membuatku langsung merenung. “How’s your sister doing?”

Oh my God! Aku sama sekali lupa punya seorang adik perempuan yang sekarang sedang beradu nasib di Jakarta. Bagaimana kabar Velin? Aku tidak tau bagaimana menjawabnya. I am such a bad sister!

Kabar terakhir dari Velin datang dari pesan singkat yang dia kirimkan padaku beberapa minggu yang lalu. Dia bilang dia kecelakaan kecil ketika ingin pergi ke kantor. Luka kecil, tidak serius, jadi jangan bilang Mama Papa. Aku ingat aku memaksanya ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaannya. Setelah memastikan dia tidak apa-apa aku kembali melupakan dia.

Tuhan! Mengapa aku jadi sangat tidak perduli dengan adikku sendiri?! Kuambil hapeku dan mencari nama adikku.

Velin (V): Halo.

Aku (A): Hai, Vel. Gimana kabarnya?

V: Ceeee…. Aku rindu.

A: (tertawa) Ce juga. Lagi ngapain?

V: Lagi kerja dong.

A: Jam segini?

V: Iya, tapi bentar lagi pulang kok. Ceeee… kapan ke Jakartanya?

A: Hmm… belum pasti nih, say. Maybe next month, maybe June.

V: Lamaaaaa…

A: (Tertawa kecil) Sorry. Soalnya semua tidak pasti dari pihak Renata.

V: Ce Nata napa?

A: Oh, belum tau ya? Dia kan mau kerja ke luar negeri jadi kita mau pesta perpisahan dulu.

V: Serius? Kapan perginya?

A: Makanyaaaa… Belum pasti. Mungkin Mei, mungkin nggak jadi.

V: Loh??

A: (tertawa) Sudahlah, panjang ceritanya. Lebih baik ngomongin soal kamu aja. Gimana kabarnya adik kesayanganku?

V: (tertawa kecil) Ceee… rindu…..

How can I forget that I miss her too?!

Tags:

Mama dan Papaku bukan pasangan bahagia. Ada kalanya mereka bertengkar seperti anak kecil, namun tidak pernah di depan anak-anak mereka hingga membuat mereka ketakutan. Mereka kadang saling mencela namun tidak pernah hingga merontokkan janji setia mereka.

Papa dan Mamaku memang bukan pasangan bahagia, namun mereka menjadi panutan kami, anak-anaknya. Di masa sekarang, di mana kata cerai bagaikan kata yang lumrah, mereka masih dapat menjadi tiang kokoh yang menopang kepercayaan kami akan pernikahan.

Sore kemarin, aku mendapati Papa dan Mama sedang di dapur ketika aku pulang kerja. Papa duduk di sebuah kursi kayu dengan handuk menutupi pundaknya. Mama berdiri di sampingnya sambil menyisirkan cat rambut hitam ke kepala Papa yang kini telah dipenuhi rambut putih. Sambil melakukan aktifitas itu, aku memandangi mereka saling bertukar candaan.

Ini pemandangan yang jarang kutemukan. Maka aku berdiri cukup lama memandangi mereka berdua. Rasanya damai sekali. Lelah dan penatku sepanjang hari itu langsung hilang seketika. Kurasa senyum mengambang di bibirku.

Aku ingin pernikahan yang seperti ini. Until death do us part. Growing old together. Sayangnya pernikahan yang kuinginkan agak sedikit berbeda dengan pernikahan Mama dan Papa. Seandainya saja…

Unwell

Posted on: April 6, 2010

Sepulangnya dari makan malam ulangtahunku, aku pikir aku akan melanjutkan hari seperti biasa. Namun tidak. Keesokan harinya aku menemukan diriku terkulai lemas di tempat tidurku. Demam. Great!

Sebenarnya aku sudah punya firasat karena aku batuk-batuk malam sebelumnya. Sudah beberapa hari belakangan aku tidak mengkonsumsi air seperti yang diperintahkan Badan Kesehatan Dunia. Dua liter per hari. Damn! Penyakitku selalu saja sama. Dan sepertinya aku memang tidak belajar dari pengalaman.

Akhirnya, sambil terkulai lemas di kamar, aku menemani diriku dengan sebotol besar air putih dan obat panas dalam pasaran. Tidak terhitung berapa kali aku bolak-balik ke kamar mandi. Setiap kali bangun dari tempat tidur, aku merasa berada di awang-awang. Untungnya tidak pingsan di kamar mandi. So uncool, gitu loh.

Begitu Mama dan Papa pulang, baru aku mendapatkan suapan gizi yang cukup. Ketika terkulai lemas itu aku tidak menghubungi siapapun. Tidak Windy, tidak Wani. Seharusnya aku memanggil mereka, karena siapa tau apa yang akan terjadi padaku bila aku benar-benar pingsan kan?

Namun, karena terbiasa hidup mandiri sejak kuliah, aku lebih termasuk golongan silent sufferer. Bukannya tidak ingin dipanggil cengeng, tapi memang aku tidak suka tampil lemah. Selama aku masih bisa berdiri sendiri, aku akan berdiri sendiri.

Cepat sakit, cepat juga sembuh. Terapi pengobatanku terbilang mujarab. Walau masih lemas, setidaknya panas tubuhku sudah turun drastis (kadang-kadang) dan pusingku sudah tidak separah kemarin. It’s time for the healing time.

Besok sepertinya Melinda masih harus bersusah payah dengan anak-anak didik kami sehari lagi. Kasian dia. Pasti dia stress minta ampun.

As if life couldn’t let me be happy for a while. Kemarin malam, dengan putus aja aku menerima kedatangan orangtua Kenny di rumah beserta dengan orangtuaku dan Tanteku.

Sore-sore sehabis tidur siang, Mama dengan muka was-was namun sumeringah menyuruhku untuk tidak keluar malam itu. “Mama Papa Kenny mau silaturami sebentar. Kamu dandan yang manis yah, Sammy.”

Aku kira aku sedang mimpi buruk, namun ini lebih parah dari mimpi buruk. Sungguh, sungguh lebih parah! Bencana!

Mau marah pun tidak bisa. Protes apalagi. Punya hak apa aku sebagai seorang anak? Mereka hanya ingin yang terbaik untukku. Baik menurut mereka. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menjawab iya dan kemudian masuk ke dalam kamar dan merokok sejadi-jadinya. Padahal aku sudah lama berhenti merokok.

Setelah emosiku sedikit mereda, aku masuk kamar mandi dan menyirami kepalaku basah-basah, dan mandi seperlunya. Serta menghilangkan jejak bau rokok dari mulut dan kamarku.

Jam 7 malam, rombongan itu datang. Aku merasa seperti barang yang hendak dijual. Acara itu dimulai dengan acara ramah tamah, bicara basa-basi. Kemudian pembicaraan mengarah ke topik yang tak terelakkan, tentang Kenny dan aku. Kenny ini, Kenny itu, kata mama Kenny. Sammy ini, Sammy itu, kata Mama. Aku hanya menjawab seperlunya ketika ditanya. Tersenyum sopan seperlunya. Dalam hati aku berharap semua ini cepat berakhir. Teman-temanku sedang menungguku di cafe tempat kami biasa nongkrong.

“Jadi, Sammy pikir Kenny anaknya gimana? Suka?” serang Tanteku tiba-tiba. Rasanya ingin aku melemparkan tatapan garang ke Mak Comblang yang satu ini, namun aku hanya bisa tersenyum kaku kepadanya. “Kenny baik, Tante. Tapi kami hanya berteman.”

“Iya, sekarang berteman saja dulu. Kalau memang jodoh, itu bagus juga,” balas Tanteku itu. Kedua pasang orangtua sepertinya tersenyum-senyum bahagia. Oh my God. Kill me, kill me now!

Satu jam kemudian, rombongan itu pulang. Mama dan Papa sepertinya bahagia. Aku? Aku ingin menangis sejadi-jadinya. Namun tidak sekarang, pikirku. Teman-temanku sedang menunggu. Aku sudah mengatakan pada mereka aku ingin karaoke.

Pilihan laguku malam itu agak berbeda dari biasanya. Untuk melepaskan semua kekesalanku, list laguku malam itu berkisar antara slow rock hingga lagu-lagu RnB yang berlirik cepat. Aku ingin teriak sejadi-jadinya.


Top Rated

September 2017
M T W T F S S
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930