Samn0body's Blog

Posts Tagged ‘cinta

Ketika aku pertama memulai menulis blog ini, semua bermula dari pertemuanku kembali dengan Windy. Dia cinta pertamaku. Ketika aku bertemu dengannya kembali setelah lebih dari sepuluh tahun kami terpisah, aku merasakan rasa cinta yang dulu kurasakan kembali dalam hitungan detik.

Orang bilang cinta pertama tidak pernah terlupakan. Itu benar. Aku merasakannya sendiri. Namun, cinta pertama tidak selamanya abadi. Mungkin dia akan kembali membuat dirimu seperti dihantam sejuta memori, kebodohan dan keluguan. Namun suatu saat kau akan menemukan matamu terbuka kembali.

Cinta membuatmu buta. Itu benar. Aku merasakannya sendiri. Hampir setahun ini aku dibutakan cinta. Cintaku yang dulu terpendam bersemi kembali. Namun seperti dulu, cinta ini tidak akan terbalas karena yang kucintai tidak mencintaiku seperti aku mencintainya.

Aku ingin berhenti. Bukan berhenti mencintainya, karena itu tidak mudah. Berhenti mencintai seseorang. Suka mungkin lahir dalam hitungan detik. Sayang mungkin bersemi dalam hitungan jam. Cinta mungkin ada dalam hitungan hari. Namun untuk memedamkan itu semua, minggu dan bulan tidak cukup.

Aku ingin berhenti menulis blog ini. Aku ingin menutup pintu yang dulu kubuka. Bukan pintu akan kejujuran diriku. Bukan itu. Aku ingin menutup kisah cintaku untuk Windy.

Kami mungkin tidak akan pernah menjadi sepasang kekasih, namun kami akan selalu berteman. Dia terlalu indah untukku hindari dan kuanggap tidak pernah ada. Karena aku pernah mencintai dia. Karena dia pernah mengisi hatiku. Karena aku menyayangi dia sepenuh hati.

Aku ingin memulai hidupku kembali. Sebuah pintu ditutup dan sebuah pintu lainnya terbuka.

Advertisements
Tags:

Kemarin malam ada yang lucu. Di antara acara shopping aku mendapati diriku kebosanan. Akhirnya aku keluar dari area belanja dan mengeluarkan hapeku. Kucari nama Gabby dari phone listku. Deringan ketiga diangkat.

Gabby (G): Ada apa, Sam? (ada suara makanan yang sedang dikunyah)

Aku (A): Lagi makan ya, Gab?

G: Iya nih. Mau?

A: Nggak deh, makasih. Uda mam.

G: (tertawa kecil) Tumben.

A: (tertawa kecil) Sama siapa?

G: Alone.

A: Kesiannya. Gab, soal liburan. Uda ijin cuti belum?

G: Belum dong. Lagian kan, kamu belum kasi tanggal pastinya kamu ke sini.

A: Yah, sekitar awal Juli gitu deh.

G: Yah sudah, nanti aku minta ijinnya.

A: Gab, kayanya aku mau ajak Windy sekalian juga.

G: What? Terus nanti kamu sama dia mau nginap di kost ku?!

A: (sensi) Ke hotel aja.

G: Nggak boleh!

A: Apaan sih, Gab. Terus kami mau tinggal di mana? Kan gak lucu ngajakin dia tidur di jalan.

G: Kenapa gak di tempatku aja?

A: Lah habis kamu tadi nadanya kaya gitu. Aku sangkain gak boleh kalau di kosmu.

G: Di tempatku aja. Mau jadi apa nanti kalau kalian sekamar berdua.

A: (tertawa)

Pikiranku langsung menerawang jauh. Membayangkan aku dan Windy sekamar berdua  di kamar hotel saja sudah menggundang reaksi seperti ini, bagaimana bila aku mengatakan bahwa aku dulu berfikir untuk sekost berdua dengan Windy. Ya, memang sayangnya aku tidak jadi mudik kembali ke Jakarta dalam waktu dekat, namun tetap saja. Suatu hari nanti mungkin kami akan sekota lagi.

Tags: , ,

Kemarin malam aku menemani Wani ke pesta pernikahan teman kerjanya yang dulu. Acara seperti ini biasanya aku tidak suka, namun bersama Wani, ini lebih terasa seperti pergi ke cafe. Bedanya semua gratis, kecuali amplop berwarna merah yang ditinggal oleh Wani di meja penerima tamu. Dan tentu saja, pakaian yang kami kenakan lebih tidak casual dari biasanya.

Sehabis dari undangan, aku diundang ke pesta perpisahan seorang teman. Aku mengundang Wani juga, namun dia tidak ingin. Aku tidak ingin memaksanya. Sudah lama Wani tidak merasa comfort hang out dengan teman-teman SMPku. Dulu aku mengira itu karena ada Windy, namun sepertinya bukan.

Anyway, pesta perpisahan itu diadakan di NAV. Tempat nongkrong favoritku. Sebenarnya motif besar aku mau ikut ke pesta perpisahan itu adalah karena lokasinya. Hahaha. Aku, sama seperti Wani, tidak terlalu kenal dengan teman yang menyelenggarakan pesta itu. Masih ingat dengan pria yang dulu dicomblang-comblangin dengan Windy? Ya, dia!

Baru aku tau kemarin dia diterima kerja di perusahaan lain, dan dia akan ditempatkan di kota kelahirannya di Bandung. Sebenarnya memang sudah lama dia ingin kembali, seperti yang aku dengar dari teman-teman yang lain. Namun dengan kepergian Windy ke Jakarta, sepertinya dia memiliki satu lagi alasan. Dan sialnya, aku merasa terancam. Bukannya aku pikir Windy akan menerimanya atau apa, namun aku hanya tidak suka Windy menghabiskan waktu dengannya.

Ok, aku cemburu. Bukan karena aku pikir Windy suka dengannya. Tapi aku cemburu karena dia laki-laki dan dia dapat dengan bebas mendekati Windy tanpa orang lain berfikir yang negatif tentangnya. Aku benci ketika dia dapat mengungkapkan rasa sukanya kepada Windy dengan mudahnya, sedang aku harus menyembunyikan rasa yang sama dari pandangan teman-teman yang lain. Aku benci keadaan ini. Aku benci aku tidak memiliki hak yang sama. Aku benci aku bukan laki-laki.

Windy akhirnya memiliki koneksi internet di kantor barunya. Senangnyaaaa… Kabar baik untuknya, juga sangat baik untukku. Setidaknya sekarang aku memiliki sarana baru untuk berkomunikasi dengannya.

Kemarin malah kami sempat webcam berdua. Walau mataku bisa terpuaskan dengan melihat wajahnya dan senyumannya kembali, namun tetap saja ada pembatas. Layar monitor. Dan aku tidak bisa menggenggam tangannya. Tidak bisa merasakan sentuhannya.

Kemarin malam aku bermimpi tentang dia. Mimpi yang indah. Dia ada dalam dekapanku dan seluruh inderaku terpuaskan. Kami berpelukan lama sekali, dan kami bercumbu. Seandainya saja… Mimpi, seandainya mimpi itu tidak hanya mimpi.

Satu bulan lagi. Satu bulan lagi kami akan bertemu kembali. Bertahan, bertahan. Rindu…

Tags: ,

Beberapa hari ini, komunikasiku dengan Windy berjalan lebih lancar. Perlahan dan pasti aku belajar untuk menerima bahwa kami tidak tinggal di kota yang sama lagi. Aku belajar untuk mengatasi kerinduanku dengan meneleponnya dan merasa cukup hanya dengan mendengar suaranya saja.

Kemarin malam, ketika sedang berbelanja dengan Wani, aku meneleponnya lagi untuk yang ketiga kalinya hari itu. Tiba-tiba saja ingin tau dia di mana. Apa dia sudah pergi jalan-jalan dengan teman-teman yang ada di sana.

“Sam, bentar ya.” Kudengar Windy berkata sesuatu ke teman-teman kerjanya, menginstruksikan sesuatu. Tidak banyak yang bisa kudengar, suara latar belakangnya berisik sekali. Beberapa detik kemudian dia memanggil namaku lagi.

“Iya,” jawabku. “Sedang sibuk?” tanyaku.

“Lumayan, tapi sekarang sudah beres. Lagi di mana?” tanyanya. Sepertinya dia berjalan masuk ke ruangan lain karena suara bising tadi sudah menghilang.

“Di Mall. Sedang temanin teman belanja. Kok belum pulang?”

“Bentar lagi. Setengah jam lagi. Lagi bareng Wani?”

“Hm. Iya. Jadi keluar dengan teman-teman nanti?”

“Iya dong. Sudah nggak sabar lagi!” Suaranya kembali ceria. Kurasa senyumku mengembang seketika. Rindu mimik mukanya ketika sedang bersemangat seperti ini. Rindu melihat matanya menyipit dan senyumnya mengembang.

“Sam, ayo. Waktunya sudah dekat,” panggil Wani. Aku menganggukkan kepalaku dan berjalan menjauh beberapa langkah.

“Wind, aku harus pergi nih. Mesti ke NAV sekarang,” bisikku ke Windy.

“Wah, enaknya. Sama siapa aja?” tanya Windy masih dengan suara cerianya.

“Sama teman-teman aku yang biasa. Tapi kayanya mau ajak teman-teman kita juga. Biar rame. Kamu mau ikut?” candaku. Dia tertawa kecil.

“Dasar nakal!” Senyumku kembali mengambang.

“Aku telepon lagi nanti ya. Bye, hati-hati di jalan nanti.”

“Ok, kamu juga. Bye.”

Panggilan telepon kumatikan. Hah! Rindu dia.

Tags: ,

Setelah akhirnya tidak tahan dengan keabsenan kabarnya, aku meneleponnya seperti orang gila. Dia punya banyak nomor. Akhirnya diangkat ketika aku menghubungi nomor Esianya.

“Halo? Sam, nelpon ke nomor ini mahal. Ke nomor Simpati aja ya. Matiin dulu ya, nanti aku yang telepon kamu.” Sebelum aku sempat menjawab apa-apa, dia sudah mematikan panggilan.

Beberapa detik kemudian, giliran hapeku yang berbunyi.

Aku (A): Wind,

Windy (W): Iya. Gimana kabarnya, Sam?

A: Aku yang harusnya tanya kabar kamu. Kok menghilang gitu sih?

W: Menghilang gimana? Oh, sorry aku lupa balas sms kamu. Habis aku sudah mulai kerja, say. Kamu sih kirim sms pas aku lagi perjalanan pulang. Mana sempat balas.

A: Uda mulai kerja? Sejak kapan?

W: Uda beberapa hari kok.

A: Kemarin katanya masih mau liat-liat dulu. Uda tanda-tangan kontrak?

W: Habisnya Kokoku uda butuh orang banget. Jadi langsung masuk kerja deh.

A: Ow. Begitu. (kecewa) Enak kerja di sana? Kamu ditempatin di bagian apa?

W:  Lumayan lah. Lumayan santai sih kerja di sini, tapi mungkin karena masih belajar ya. Aku di bagian nerima-nerima uang cash.

A: Ow.

W: Dari tadi ‘ow-ow’ terus. (tertawa kecil) Suara kamu kok agak aneh sih, Sam?

A: Lagi pilek.

W: Dah minum obat?

A: Iya. Udah.

W: Masuk kerja?

A: Masuk.

W: Kok lemah gitu sih?

A: Bis, kamu bakal lama baliknya.

W: (tertawa) Kamu kan bisa ngunjungin aku di sini. Jadi datang kan?

A: Pasti. Tapi masih belum tau kapan. Mungkin minggu depan, mungkin bulan depan.

W: KOK?

Siang itu, sakit di dadaku sedikit berkurang setelah mendengar suaranya, suara tawanya, keceriaannya. Namun masih ada sakit lain yang masih tersisa. Aku rindu dia. Ingin menggenggam tangannya. Memandang matanya dan merasakan sentuhannya. Ingin bersamanya. Rindu setengah mati.

Tags: ,

Kemarin malam, ingin aku berpaling ke Gabby untuk sekedar menenangkan hati ini dengan sedikit mencurahkan kesedihan di dada, namun malahan aku berpaling ke teman yang lain. It was time, I said.

Renata. Sudah berapa tahun aku bersahabat dengannya? Dari tahun 2002 hingga sekarang. Dan selama itu, aku yakin dia adalah orang yang open minded dan pastinya akan bisa menerima coming outku ini dengan baik.

Dan itu benar adanya. Dia dengan tenang mendengarkan ceritaku, curhatku dan memberikan saran-saran yang bahkan tidak terlihat olehku. Intinya, she was being the best friend one could ever have.

Semua yang dikatakannya masuk akal, namun hingga sekarang ada satu hal yang masih sulit  untukku terima. “Tell her how you feel and move on or just let her go. For her own good.” Airmataku menetes ketika membaca kalimat-kalimatnya.

Aku mencintai dia. Menyayangi dia. Namun cintaku bukanlah cinta yang semurni itu, kataku. Aku ingin dia bahagia, namun bila itu bersamaku, bukan dengan orang lain. Aku memang bukan yang terbaik untuknya, namun aku ingin menjadi yang terbaik.

“Antar dia besok, jangan menghindar. You will regret it if you don’t.” Saran Renata yang berikutnya. “I know,” hanya itu jawabku.

Kata-kata itu yang teriang di kepalaku ketika aku melihatnya memasukin burung besi itu dan melihatnya dibawa pergi. Hangatnya pelukan tadi kini tak terasa lagi. Secepat itukah bau tubuhnya  menghilang? Dan begitu angin berhembus, semua menghilang.

Tags: ,

Top Rated

September 2017
M T W T F S S
« Jun    
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
252627282930