Samn0body's Blog

Posts Tagged ‘bad mood

Wanita itu. Aku tidak terlalu mengenalnya. Dia temannya temanku. Sudah lebih dari dua minggu ini dia menghubungiku tanpa henti. Niat pedekatenya kental sekali.Pernah sekali aku keluar dengannya, namun lama kelamaan aku bosan. Dia terlalu banyak bicara tentang dirinya sendiri. Aku sampai muak.

Maka, sengaja aku tidak membalas pesan singkat dan teleponnya. Sengaja tampil offline khusus untuknya di YM. Aku merasa bersalah kadang, but what the hell! Hidup terasa sangat penat ketika dia terus mengocehkan tentang hidupnya yang penuh dengan bencana dan penyakit. I wanna yell to her, “Stop complaining! And, can we talk about anything BUT YOU?”

Namun aku tak kuasa menyemburkan kata-kata itu di depan mukanya, maka aku hanya dapat menuliskannya di sini. Sambil mengetikkan ini, aku berfikir sendiri, apa aku pernah dianggap seperti ini oleh orang lain? Apa aku akan mendapatkan karma buruk karena menyuekin dia? Haduh, bisa berabe!

Kemarin malam aku menemani Wani ke pesta pernikahan teman kerjanya yang dulu. Acara seperti ini biasanya aku tidak suka, namun bersama Wani, ini lebih terasa seperti pergi ke cafe. Bedanya semua gratis, kecuali amplop berwarna merah yang ditinggal oleh Wani di meja penerima tamu. Dan tentu saja, pakaian yang kami kenakan lebih tidak casual dari biasanya.

Sehabis dari undangan, aku diundang ke pesta perpisahan seorang teman. Aku mengundang Wani juga, namun dia tidak ingin. Aku tidak ingin memaksanya. Sudah lama Wani tidak merasa comfort hang out dengan teman-teman SMPku. Dulu aku mengira itu karena ada Windy, namun sepertinya bukan.

Anyway, pesta perpisahan itu diadakan di NAV. Tempat nongkrong favoritku. Sebenarnya motif besar aku mau ikut ke pesta perpisahan itu adalah karena lokasinya. Hahaha. Aku, sama seperti Wani, tidak terlalu kenal dengan teman yang menyelenggarakan pesta itu. Masih ingat dengan pria yang dulu dicomblang-comblangin dengan Windy? Ya, dia!

Baru aku tau kemarin dia diterima kerja di perusahaan lain, dan dia akan ditempatkan di kota kelahirannya di Bandung. Sebenarnya memang sudah lama dia ingin kembali, seperti yang aku dengar dari teman-teman yang lain. Namun dengan kepergian Windy ke Jakarta, sepertinya dia memiliki satu lagi alasan. Dan sialnya, aku merasa terancam. Bukannya aku pikir Windy akan menerimanya atau apa, namun aku hanya tidak suka Windy menghabiskan waktu dengannya.

Ok, aku cemburu. Bukan karena aku pikir Windy suka dengannya. Tapi aku cemburu karena dia laki-laki dan dia dapat dengan bebas mendekati Windy tanpa orang lain berfikir yang negatif tentangnya. Aku benci ketika dia dapat mengungkapkan rasa sukanya kepada Windy dengan mudahnya, sedang aku harus menyembunyikan rasa yang sama dari pandangan teman-teman yang lain. Aku benci keadaan ini. Aku benci aku tidak memiliki hak yang sama. Aku benci aku bukan laki-laki.

Kemarin malam, di antara kerumunan teman-teman lama, aku tersentak ketika kata “lesbian” terucap dari bibir seorang teman. Ivan teman lamaku ketika itu sedang bercanda mengenai Yacob, yang dulu memang sangat feminim untuk ukuran seorang anak laki-laki, dan Susan temanku yang lain, yang hingga kini masih saja sangat kasar dan kelaki-lakian.

Nasi yang sedang kukunyah tiba-tiba terasa hambar. Tanganku berhenti menyobek-nyobek ayam bakar yang ada di depanku. Semua panca inderaku dengan awas mengikuti arah pembicaraan berikutnya.

“Yacob tuh cocok buat kamu, Susan. Satunya gay, satunya lagi lesbian. Saling melengkapi,” canda Ivan. Yang lain tertawa, aku hanya meringis.

“Jangan sensi gitu dong ke Yacob, Van. Masih dendam yah gara-gara ditolak sama dia dulu?” candaku balik ke Ivan. Yang lain tertawa lebih keras lagi dan kemudian ikut-ikutan mencandai teman kami itu.

“Anyway, sekarang Yacob macho banget kali! Loe aja kalah, Van,” kataku lagi. Tidak rela teman baik masih diasosiasikan dengan embel-embel lemah dan banci, aku meng-up-to-date kabar terbaru dari Yacob yang karirnya sangat cemerlang di dunia NGO dan kini mendapatkan beasiswa untuk belajar di Belanda. Aku sangat bangga padanya.

Malam itu sama seperti malam-malam biasa ketika aku hang out dengan mereka. Topik mengenai masa sekolah kami selalu menjadi favorit semua, kecuali mungkin untuk beberapa teman di sana yang memang bukan satu almamater dengan kami. Namun selalu saja ada yang lucu untuk ditertawakan semua.

Memang aku masih dapat menikmati malam itu, namun ketika aku baringan di ranjangku malam itu, pikiranku tak bisa tenang. Lama aku resah dan tidak bisa memejamkan mataku tanpa memikirkan pembicaraan tadi.

Mataku melirik jam waker di samping ranjangku. Sudah jam 2 pagi dan tidak ada tanda-tanda aku akan tertidur dalam waktu dekat. Akhirnya aku menyerah. Kulempar bedcover yang sedari tadi menghangatkan tubuhku dari dinginnya malam dan bergerak menjauh dari ranjang. Kubuka tas kerjaku dan mengeluarkan laptopku. Lebih baik kerja daripada tidak bisa tidur.

As if life couldn’t let me be happy for a while. Kemarin malam, dengan putus aja aku menerima kedatangan orangtua Kenny di rumah beserta dengan orangtuaku dan Tanteku.

Sore-sore sehabis tidur siang, Mama dengan muka was-was namun sumeringah menyuruhku untuk tidak keluar malam itu. “Mama Papa Kenny mau silaturami sebentar. Kamu dandan yang manis yah, Sammy.”

Aku kira aku sedang mimpi buruk, namun ini lebih parah dari mimpi buruk. Sungguh, sungguh lebih parah! Bencana!

Mau marah pun tidak bisa. Protes apalagi. Punya hak apa aku sebagai seorang anak? Mereka hanya ingin yang terbaik untukku. Baik menurut mereka. Tidak ada yang bisa kulakukan selain menjawab iya dan kemudian masuk ke dalam kamar dan merokok sejadi-jadinya. Padahal aku sudah lama berhenti merokok.

Setelah emosiku sedikit mereda, aku masuk kamar mandi dan menyirami kepalaku basah-basah, dan mandi seperlunya. Serta menghilangkan jejak bau rokok dari mulut dan kamarku.

Jam 7 malam, rombongan itu datang. Aku merasa seperti barang yang hendak dijual. Acara itu dimulai dengan acara ramah tamah, bicara basa-basi. Kemudian pembicaraan mengarah ke topik yang tak terelakkan, tentang Kenny dan aku. Kenny ini, Kenny itu, kata mama Kenny. Sammy ini, Sammy itu, kata Mama. Aku hanya menjawab seperlunya ketika ditanya. Tersenyum sopan seperlunya. Dalam hati aku berharap semua ini cepat berakhir. Teman-temanku sedang menungguku di cafe tempat kami biasa nongkrong.

“Jadi, Sammy pikir Kenny anaknya gimana? Suka?” serang Tanteku tiba-tiba. Rasanya ingin aku melemparkan tatapan garang ke Mak Comblang yang satu ini, namun aku hanya bisa tersenyum kaku kepadanya. “Kenny baik, Tante. Tapi kami hanya berteman.”

“Iya, sekarang berteman saja dulu. Kalau memang jodoh, itu bagus juga,” balas Tanteku itu. Kedua pasang orangtua sepertinya tersenyum-senyum bahagia. Oh my God. Kill me, kill me now!

Satu jam kemudian, rombongan itu pulang. Mama dan Papa sepertinya bahagia. Aku? Aku ingin menangis sejadi-jadinya. Namun tidak sekarang, pikirku. Teman-temanku sedang menunggu. Aku sudah mengatakan pada mereka aku ingin karaoke.

Pilihan laguku malam itu agak berbeda dari biasanya. Untuk melepaskan semua kekesalanku, list laguku malam itu berkisar antara slow rock hingga lagu-lagu RnB yang berlirik cepat. Aku ingin teriak sejadi-jadinya.

Hari Selasa, libur Nyepi. Rencananya aku tidur hingga lunch dateku dengan Windy, namun pagi-pagi aku sudah ditelepon oleh teman lamaku. Tanpa membuka matakupun aku tau aku tidak bisa menolak permintaannya. Another lunch date with her and Wani.

Akhirnya pada jam 10, aku menyeret badanku dan mandi. Sejam kemudian aku menunggu Santy dan Wani datang di Pizza Hut. Sambil menunggu mereka datang, aku merencanakan apa saja yang dapat kupesan agar aku tidak kekenyangan nanti untuk lunch date berikutnya dengan Windy.

Antara menimbang personal pizza (agar aku bisa berbagi dengan Santy dan Wani) dan pasta, yang punya acara akhirnya datang juga. Dengan gaya jalannya yang serampangan, aku memaksakan sebuah senyuman terbaikku untuk teman lamaku itu.

Lunch date awalku berakhir pada jam 12 lewat sedikit, aku segera bergegas ke kantor Windy setelahnya. Aku terpaksa meninggalkan kedua temanku di sana.

Aku (A): Win, aku on the way ke kantormu. Sudah bisa keluar kan?

Windy (W): Sudah, sudah. Tapi, Sam…

A: Apa? Ada apa?

W: Ehm, Susan mau ikut.

A: Ooo..

W: Nggak apa kan?

A: No, no problem. (merutuk dalam hati)

W: Bagus. Gini, ada masalah lain, bisa nggak kamu jemput Susan? Aku harus kirim dokumen dulu dan masih proses download file. Nanti aku nyusul sendiri ke sana. Aku harus pergi ke kantor klien juga nanti, sehabis lunch.

A: Ok, ga masalah. Tapi aku nggak masalah antar kamu ke kantor klien kamu kok. Bareng aja ya?

W: Nggak usah. Begini lebih efisien.

A: Oh, ok. (merutuk dalam hati)

W: Tolong telepon Susan ya, Sam. Dia nunggu kamu di kantor.

A: Em, ok. Sampai nanti.

Hancur sudah hariku.

“Sam, keluar yuks. I need to escape.” Begitu sms singkat Julia. Sebenarnya aku sudah ada janji dengan Wani, namun aku tidak bisa menolak permintaan Julie, setelah beberapa hari ini tidak menemuinya.

“Ok, what time? Aku jemput ke mana?” balasku.

Tiga puluh menit kemudian aku dan dia duduk di sebuah cafe kecil yang jarang dikunjungi orang-orang. Mungkin karena makanannya yang tidak terlalu enak. Well, buatku dan Julie yang memang hanya butuh kopi, hal itu bukan masalah. Kami hanya butuh tempat nongkrong yang sepi.

Muka Julie kusut. Begitu masuk ke mobil, dia langsung menghidupkan musik dengan keras. Kemudian dia menyandarkan punggungnya dan menarik nafas panjang. Sekali, dua kali, tiga kali. Aku hanya memandanginya dan tidak bersuara. Kutunggui saja hingga dia siap bicara.

Ketika kami sampai di cafe pun dia hanya berbicara seperlunya saja. Kutunggui dia meresapi mocca cappucinonya.

“Enak?” tanyaku. Dia menatapku dan tersenyum kecil. Kemudian dia menyodorkan cangkirnya ke arahku. “Coba deh,” katanya. Aku menerimanya dan mendekatkan cangkirnya ke bibirku.

“Sam,” panggil Julie. Aku mendonggak dan meletakkan cangkir kopinya. “Ya?” jawabku.

“Kita jalan-jalan ke luar negri yuk. Minggu depan kamu bisa ambil cuti?” Aku kembali memandanginya.

“Sorry, aku nggak bisa. Nggak enak ambil cuti di saat semua sedang sibuk nyiapin kegiatan tengah semester,” jawabku. Aku meraih tangannya dan mengenggamnya. “Ada masalah apa? Cerita,” kataku.

Julie memandangi tangan kami berdua dan hanya terdiam. “Nanti aku cerita, kapan-kapan,” jawabnya akhirnya

Satu bulan kemarin, aku benar-benar hanya bertemu dengan Windy beberapa kali. Dan komunikasi kami juga hanya seperlunya saja. Namun bulan ini, kami akan rutin bertemu kembali. Setidaknya sekali seminggu. Badminton.

Aku tidak tau bagaimana menggambarkan perasaanku. Kurasa aku senang, aku dapat berjumpa dengannya dan memandanginya. Namun setiap kali, aku juga pasti sedih karena aku akan selalu teringat bahwa kami hanyalah teman. Dia wanita yang tidak pernah akan aku dapatkan.

Sebenarnya aku telah menyerah. Sungguh, aku sudah dapat menerima hal itu. Aku bahkan sudah memiliki penggantinya. Well, sort of. Hubunganku dan Julie masih terlalu awal untuk disebut pacaran. Setidaknya kami sedang berteman lagi. Namun arah pertemanan kami jelas.

Aku suka Julie. Dia baik dan pengertian. Hanya saja dia bukan Windy. Dia tidak membuat jantung berdetak cepat setiap kali aku melihatnya.

I am an ass, I know that! Don’t you think that I know that?! And, she, she is too good for me. Maybe I deserve to be alone!

Tags:

Top Rated

May 2017
M T W T F S S
« Jun    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031