Samn0body's Blog

Kemarin malam, di antara kerumunan teman-teman lama, aku tersentak ketika kata “lesbian” terucap dari bibir seorang teman. Ivan teman lamaku ketika itu sedang bercanda mengenai Yacob, yang dulu memang sangat feminim untuk ukuran seorang anak laki-laki, dan Susan temanku yang lain, yang hingga kini masih saja sangat kasar dan kelaki-lakian.

Nasi yang sedang kukunyah tiba-tiba terasa hambar. Tanganku berhenti menyobek-nyobek ayam bakar yang ada di depanku. Semua panca inderaku dengan awas mengikuti arah pembicaraan berikutnya.

“Yacob tuh cocok buat kamu, Susan. Satunya gay, satunya lagi lesbian. Saling melengkapi,” canda Ivan. Yang lain tertawa, aku hanya meringis.

“Jangan sensi gitu dong ke Yacob, Van. Masih dendam yah gara-gara ditolak sama dia dulu?” candaku balik ke Ivan. Yang lain tertawa lebih keras lagi dan kemudian ikut-ikutan mencandai teman kami itu.

“Anyway, sekarang Yacob macho banget kali! Loe aja kalah, Van,” kataku lagi. Tidak rela teman baik masih diasosiasikan dengan embel-embel lemah dan banci, aku meng-up-to-date kabar terbaru dari Yacob yang karirnya sangat cemerlang di dunia NGO dan kini mendapatkan beasiswa untuk belajar di Belanda. Aku sangat bangga padanya.

Malam itu sama seperti malam-malam biasa ketika aku hang out dengan mereka. Topik mengenai masa sekolah kami selalu menjadi favorit semua, kecuali mungkin untuk beberapa teman di sana yang memang bukan satu almamater dengan kami. Namun selalu saja ada yang lucu untuk ditertawakan semua.

Memang aku masih dapat menikmati malam itu, namun ketika aku baringan di ranjangku malam itu, pikiranku tak bisa tenang. Lama aku resah dan tidak bisa memejamkan mataku tanpa memikirkan pembicaraan tadi.

Mataku melirik jam waker di samping ranjangku. Sudah jam 2 pagi dan tidak ada tanda-tanda aku akan tertidur dalam waktu dekat. Akhirnya aku menyerah. Kulempar bedcover yang sedari tadi menghangatkan tubuhku dari dinginnya malam dan bergerak menjauh dari ranjang. Kubuka tas kerjaku dan mengeluarkan laptopku. Lebih baik kerja daripada tidak bisa tidur.

Aku sayang dan jatuh cinta pada satu wanita, namun kadang aku pun masih suka melirik yang lain. It’s human I think. Jadi, seperti biasa, aku tau ketika aku melangkah ke lapangan bulu tangkis di sekolah aku akan menemukan dia di sana. Dia seorang guru juga, namun berbeda level denganku. Dia mengajar taman kanak-kanak. Sebut saja namanya Maria.

Hari Rabu pagi. Anak-anak didik kami sama-sama memiliki aktifitas di luar kelas. Anak-anak didikku olahraga, anak-anaknya senam pagi. Sudah lebih dari setengah tahun kami bertemu di lapangan itu dan tidak saling menyapa (namun saling berbalas senyum ketika berpapasan). Ketika dia sibuk mengatur anak-anak didiknya yang masih kecil-kecil, aku sibuk meliriknya sambil bermain badminton bersama partner mengajarku yang juga suka berkeringat.

Seharusnya aku di ruanganku dan berkutat dengan koreksian yang menumpuk. Namun menggunakan moto hidup, “semua harus seimbang, antara otak dan jasmani,” aku dan partner mengajarku itu selalu turun ke bawah untuk berolahraga sekali dalam seminggu. Sama seperti anak-anak didik kami. Walau sebenarnya motifku tidak sepenuhnya untuk olahraga saja. Haha!

Pagi kemarin, seperti biasa, jam 8 pagi aku sudah turun ke bawah. Sambil menunggu temanku yang sedang berganti baju, aku duduk dan mengarahkan pandanganku ke arahnya. Mudah bagiku menyamarkan arah pandanganku karena di sana juga banyak anak-anak didiknya yang lucu-lucu.

Tingkah mereka yang menggemaskan sama menariknya dengan guru mereka yang berambut bob dan berbusana chic. Kami tidak menggunakan seragam. Dia juga berkacamata, kadang-kadang. Aku lebih suka dia tidak berkacamata. Ketika dia menggerakkan badan bersama murid-muridnya, kadang kala nafasku tertahan. Damn, she’s hot. Namun kadang juga lucu. Suaranya seperti hujan yang membasahi bumi yang panas terpanggang matahari. Tawanya seperti angin sepoi-sepoi yang menyegarkan. Tatapan matanya.. oh, tatapan matanya. Menyejukkan.

Sial, aku kedengaran seperti seorang mata keranjang saja. Anyway, senang rasanya bisa ‘berolahraga’ pagi seperti ini.

Tags: , ,

Windy akhirnya memiliki koneksi internet di kantor barunya. Senangnyaaaa… Kabar baik untuknya, juga sangat baik untukku. Setidaknya sekarang aku memiliki sarana baru untuk berkomunikasi dengannya.

Kemarin malah kami sempat webcam berdua. Walau mataku bisa terpuaskan dengan melihat wajahnya dan senyumannya kembali, namun tetap saja ada pembatas. Layar monitor. Dan aku tidak bisa menggenggam tangannya. Tidak bisa merasakan sentuhannya.

Kemarin malam aku bermimpi tentang dia. Mimpi yang indah. Dia ada dalam dekapanku dan seluruh inderaku terpuaskan. Kami berpelukan lama sekali, dan kami bercumbu. Seandainya saja… Mimpi, seandainya mimpi itu tidak hanya mimpi.

Satu bulan lagi. Satu bulan lagi kami akan bertemu kembali. Bertahan, bertahan. Rindu…

Tags: ,

Minggu malam. Sambil terduduk di balkon dengan laptop di pangkuan dan lampu emergency di sebelahku, aku termenung sendiri. Pandanganku pada layar laptopku, namun sesekali masih memperhatikan pemandangan di depanku. Mengarah ke rumah yang berada di kompleks yang sama dengan rumahku. Jaraknya pasti tidak lebih dari 200 meter. Kebakaran, tidak besar memang, namun tetap saja semua heboh.

Beberapa mobil pemadam kebakaran dikerahkan dan jalanan macet total. Tanpa keluar pun aku tau karena dari balkon rumahku aku dapat melihat kilatan lampu merah dari mobil pemadam itu dan lampu kuning dari lampu mobil atau motor yang lalu lalang. Suara mobil pemadam memekakan malam yang tenang dan suara peluit polisi menandakan telah terlalu banyak masyarakat yang datang menonton. Beberapa di antaranya teman-temanku. Seharusnya mereka menjemputku beberapa menit sebelum kebakaran terjadi.

Dari balkon aku memantau kebakaran itu. Di sampingku hapeku siap siaga. Beberapa menit yang lalu aku telah mengabarkan orangtuaku yang ketika itu sedang berada di vihara. “Tidak besar apinya, sebentar lagi pasti padam,” begitu ringkasannya. Mama dan Papa pun merasa mereka tidak perlu segera pulang.

Sebenarnya, dalam hatiku, aku ingin mereka pulang karena sebenarnya aku sedikit takut berada di rumah sendirian sambil melihat kebakaran itu. Jaraknya lumayan dekat. Dan walaupun api kelihatannya telah dapat dikendalikan, namun tetap saja.

Tags:

Posesif

Posted on: May 14, 2010

Beberapa malam yang lalu, aku bersama Wani dan beberapa teman pergi ke rumah salah seorang teman yang sedang berulang tahun. Sebut saja namanya Yeni.

Sesampainya di rumah Yeni, seperti biasa kami mengeluarkan kue tart yang kami beli, menancapkan lilin ulangtahunnya dan menyalakannya. Dari luar pintu kami memanggil nama teman kami itu dan mulai menyenandungkan lagu “Happy Birthday” ketika wajah Yeni nampak dari balik pintu.

Lilin ditiup. Kami saling bercipika-cipiki-an dan kemudian diundang masuk ke dalam ruang tamu. Kue dipotong dan dibagi-bagikan untuk dijadikan camilan sambil bercengkrama. Ritual biasa.

Aku sedang tertawa geli ketika hapeku bergetar. Ada panggilan masuk. Lanny. Seorang teman lama yang baru kukenal kembali. Teman satu hobby. Ratu karaoke dan dugem.

Entah mengapa aku secara otomatis berdiri dan berjalan keluar untuk mengangkat panggilan telepon itu. Sebenarnya panggilan itu tidaklah romantis bagiku karena Lanny hanyalah temanku, walau aku agak curiga dia memiliki rasa untukku.

Anyway, ketika aku kembali dan bergabung kembali dengan teman-teman aku baru merasakan bodohnya tindakanku itu. Wani yang sedari tadi duduk agak jauh dariku tiba-tiba menggeser pantatnya dan duduk dekat sekali denganku. Biasanya dia selalu menjaga jarak denganku. Dan aku yang sudah terbiasa begitu merasa aneh sendiri begitu dia menyandarkan kepalanya dengan manja ke pundakku. Oh, no!

Teman-teman yang lain sepertinya tidak terlalu merasa aneh, karena mereka sedang sibuk dengan cengkrama mereka sendiri.

“Kamu kenapa?” tanyaku, namun tak menggeser badanku sedikitpun.

“Ngantuk,” jawab Wani pendek. Dia juga tidak bergerak. Kurasakan badanku semakin kaku karena aku tidak ingin bergerak sedikitpun. Ketika Santy datang, baru aku dapat bernafas lega. Wani menarik kepalanya dan aku bisa bergerak lagi.

I hate this. Aku lebih suka Wani yang lucu dan rileks. Bukan Wani yang posesif seperti ini, dan kemudian menjaga jarak. It sucks.

Tags:

Kemarin malam Mama berdiskusi denganku tentang adik bungsuku, Velin. Sudah lebih dari sebulan ini dia menganggur di Jakarta. Terakhir dia bilang dia sudah mendapatkan pekerjaan, namun masih binggung mau menerimanya atau tidak. “Oh my,” pikirku.

Mama memulai dengan sejumput fakta-fakta saja, belum opininya. Aku sudah tau pasti apa opininya. Dia selalu ingin Velin untuk pulang dan bekerja saja di kota kami. Lebih dekat lebih baik, kata Mama dulu. Dan ini hanya berlaku untuk aku, Velin dan Rizal, adikku yang satu lagi. Abangku sudah terlanjur berkarir di Jakarta dan karirnya terlalu bagus untuk ditinggalkan. Apalagi kini abangku telah berkeluarga di sana.

Mama tidak menyuarakan pikirannya kali ini. Namun aku tau dia ingin Velin pulang. Kadang aku merasa Mama benar, namun itu tidak adil bagi Velin. Setidaknya dia diberikan kesempatan untuk berkembang. Namun tetap saja aku sama khawatirnya dengan Mama.

Aku diam saja. Mendengarkan saja. Memberi komentar bila diperlukan. Mama sepertinya mengerti. Maka kemudian kami berbicara tentang yang lain. Mama meneruskan aktifitas memasaknya dan aku kembali menatap layar monitor laptopku. Masih ada tugas dari kantor yang harus kuselesaikan. Deadlinenya besok.

Tak berapa lama, hapeku bergetar. Ada pesan masuk, tak berapa lama kemudian ada panggilan masuk. Riri. “Karaoke yuk!” katanya begitu aku mengangkat telepon. Aku tertawa dan kemudian mengiyakan. Setengah jam kemudian, tugasku dan masalah di rumah menguap seperti asap rokok.

Janji aku tidak akan memulai blog ini dengan kata “rindu dia” lagi. Walau memang aku masih. Tapi ada hal-hal lain yang terjadi. Teman baikku akan pergi menggapai cita-citanya. Dan aku tidak ada di sana ketika dia mengadakan pesta perpisahannya dengan berjalan-jalan dengan teman-teman yang lain.

Waktu yang mepet dan kesibukanku membuatku harus berpuas hati hanya dengan memandangi foto-foto perjalanan mereka. Iri sebenarnya, namun aku senang melihat guratan kebahagiaan di wajah-wajah mereka.

Foto demi foto, aku melihat sosok-sosok orang yang dulu menemaniku melewati masa-masa kuliah. Wajah-wajah yang setiap pagi hingga siang kutatapi, kadang di malam hari. Di dalam mata mereka aku menemukan kesamaan. Kantuk dan bosan. Namun demi sebuah nilai, kami duduk berdamping-dampingan di sebuah ruang kuliah yang itu-itu saja selama empat tahun lebih.

Kupikir aku tidak akan berbagi cerita lagi dengan mereka selepas kelulusan kami, namun aku salah. Kerasnya hidup di ibukota mempertemukan kami kembali dan kembali aku menemukan kesamaan dalam sorot mata kami. Life is hard, but we must survive.

Bila dulu kami berjuang melawan rasa kantuk dan deadline tugas yang bertumpuk, kini kami berjuang dengan rutinitas dan tanggung jawab pekerjaan yang membuat hidup serasa tak berwarna.

Tak terasa, tiga tahun sejak kelulusan kami, masih saja kami berbagi hidup bersama. Mungkin nanti-nanti juga masih. Aku optimis masih. Namun aku tidak yakin kami akan dipertemukan lagi dalam waktu dekat. Apalagi setelah keberangkatan Renata. She is like the glue of our friendship.

Teman datang dan pergi. Mungkin mereka akan menghilang, namun mereka selalu meninggalkan kenangan yang tak akan pernah menghilang. Love you, friends!

Tags:

Top Rated

May 2017
M T W T F S S
« Jun    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031