Samn0body's Blog

To Tell or Not to Tell

Posted on: April 22, 2010

Entah ini perasaanku saja atau apa, tapi aku merasa Wani sedang menjauhiku. Kami memang masih sering keluar berdua, namun setiap kali kami mengambil tempat duduk, dia selalu menggeser kursinya menjauh dariku. Atau dia memilih duduk berhadapan denganku. Malam ini pun sama. Ingin rasanya aku bertanya, namun aku tidak berkata apa-apa.

Kami sedang duduk di sebuah cafe kecil tempat kami sering nongkrong ketika kami masih duduk di bangku SMA. Tempatnya masih saja sama. Om dan tante pemilik cafe masih sama seperti dulu. Pasangan yang sederhana dan bahagia. Aku duga semua pelanggan setia mereka hanya datang untuk menyaksikan kemesraan mereka berdua. Dan tentu saja, es krim sundae di cafe ini tidak ada duanya.

Wani(W): Sam, pernah timbang gula darah?

Aku(A): Hah? Kok tiba-tiba ngomongin soal gula darah? Kamu kenapa? Habis mimpi buruk?

W: Bukan! Tadi siang kantorku ikutan event kesehatan gitu. Terus ada timbang gula darah gratisan, jadi aku ikut.

A: Ow. Sangkain. Nggak pernah tuh.

W: Coba timbang deh, Sam. Kamu kan suka sembarangan makan!

A: Sial! Nyumpahin aku ya?

W: (tertawa)

A: Wan, liat deh yang di depan kita, di pojok kanan. Masih ingat nggak ma dia?

W: Adik kelas kita kan?

A: Iya. Dia sekarang masuk genknya Zhang loh.

W: Yang bener??

A: Yups.

W: Dia masih ehem ehem?

A: Maksudnya gay?

W: (tertawa) Iya

A: (tersenyum) Lah iya lah.

Entah berapa lama kami berdua tidak membahas mengenai hubungan sesama jenis. Malam itu aku menceritakan kepadanya permasalahan Zhang dengan usahanya untuk menikah demi status dengan melibatkan kerabat dari teman baik kami yang lain. Bila mau jujur, sebenarnya aku sangat tidak setuju dengan tindakannya, namun aku tidak ingin ikut campur. Nanti malah tambah rumit.

W: Sam, mengapa yah Zhang bisa jadi lesbi?

A: Maksudnya?

W: Maksudnya, kenapa dia mau jadi lesbi gitu loh. Kan ribet!

A: Oh my God, Wan! Siapa juga yang milih begitu. Emang dari lahir udah begitu kali.

W: Begitu ya?

A: Cape deh. (tertawa)

W: Zhang sebenarnya nggak perlu kan nikah demi status. Tanpa menikahpun, dia tidak kurang apapun kan? Keluarganya kaya, dia tidak perlu kerja sebenarnya.

A: Mungkin karena ingin membahagiakan orangtua.

W: Ow.

A: Lagian, kita hidup di masyarakat yang masih kolot. Wanita harus menikah. Walau setelah menikah jadi janda, setidaknya pernah menikah. (tertawa)

W: (tertawa) Tapi, kalau aku. Aku tidak masalah kalau punya anak, kakak atau adik yang gay ataupun lesbian.

A: Ya?

W: Iya. Selama dia bahagia.

Aku mengangguk-ngangguk. Sebenarnya ini adalah kesempatan yang sangat baik untukku coming out, namun seperti biasa, aku tidak melakukannya. Mungkin karena sikap Wani belakangan ini yang menjaga jarak dariku. Mungkin karena kami sedang berada di tempat yang tidak sepi. Aku tidak tau. Aku malah mengalihkan pembicaraan ke topik lain.

Sekali lagi aku melewatkan satu kesempatan baik untuk berterus-terang pada temanku.

Advertisements
Tags:

2 Responses to "To Tell or Not to Tell"

jangan di paksain Sam,lam kenal yach:-)

Salam kenal juga, Yaaku ^ ^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated

April 2010
M T W T F S S
« Mar   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
%d bloggers like this: