Samn0body's Blog

Catching up with Wani

Posted on: April 13, 2010

Sudah semingguan ini aku tidak bertemu dengan Wani. Semua gara-gara sakit dan kesibukanku dengan Windy. Akhirnya hari ini aku melowongkan waktunya untuk temanku.

Seperti biasa, setiap kali aku menjemputnya, pertanyaan yang sama selalu menghentikan langkah kami. “Mau ke mana ya?” Kota kami ini sungguh sangat kecil, sepertinya hampir semua tempat telah kami kunjungi. Ke kafe? Aku sedang menghindari kafe. Ke mall? Bosan. Itu-itu saja. Hunting DVD? Sepertinya belum ada yang baru. Makan? Gimana dengan dietnya? Nonton? Nggak ada yang menarik. Clash of the Titans sudah minggu lalu.

Hah!!!! Bosannyaaaaaa.

Akhirnya kami hanya berkeliling kota selama beberapa menit dan kemudian berakhir di sebuah supermarket. Belanja bulanan. Berbelanja bulanan seperti, pernah kubaca, dapat membuat orang rileks. Ada penelitian yang menyimpulkan bahwa kondisi supermarket yang tertata rapi dan apik membuat orang merasa nyaman. Sesuatu yang mungkin tidak pernah mereka dapatkan di rumah mereka masing-masing.

Sambil memanjakan mata dengan keteraturan di tempat perbelanjaan itu, Wani banyak bercerita tentang orang-orang di kantornya. Sebentar lagi atasannya akan dipindah ke tempat lain dan dia akan memiliki atasan baru. Sepertinya dia agak was-was, khawatir dia tidak bisa mengikuti ritme kerja atasan yang baru. Maklum, atasan yang baru ini wanita, pastinya cara kerjanya akan sangat berbeda dari atasan yang sekarang.

Aku bercerita tentangnya tentang keputusanku untuk mengakhiri kontrak kerjaku bila aku ditempatkan untuk mengajar anak-anak didikku yang sekarang ini tahun ajaran depan. Kuceritakan padanya tentang kenakalan-kenakalan anak-anak didikku. Dia banyak tertawa. Sesampainya di kasir, kami berdua menyimpulkan, kami berdua sebaiknya mencari pekerjaan yang baru.

Aku selalu suka berbincang dengan Wani seperti ini. Aku merasa aku selalu dapat menjadi diriku sendiri, namun aku tak habis pikir, mengapa aku tidak berani coming out padanya. Aku yakin seyakin-yakinnya bahwa Wani akan mengerti dan tetap memperlakukanku sama.

Namun, setiap kali aku ingin membuka mulutku, selalu ada sesuatu yang menghentikan langkahku. Ada ketakutan yang tidak dapat kujelaskan. Mungkin aku takut kami tidak bisa tertawa selepas ini lagi. Atau mungkin dia akan menjaga jarak dariku. Atau mungkin malah dia akan semakin menjaga jarak dari Windy.

Kemungkinan-kemungkinan ini yang membuatku selalu menunda dan menunda. Lagian, hubungan kami sekarang sangat membuatku nyaman, terutama ketika kami tidak membicarakan soal Windy.

Advertisements
Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated

April 2010
M T W T F S S
« Mar   May »
 1234
567891011
12131415161718
19202122232425
2627282930  
%d bloggers like this: