Samn0body's Blog

Teman Baru

Posted on: March 24, 2010

Setelah beberapa kali aku membatalkan janji temu dengan Kenny, akhirnya Mama mengeluarkan ultimatum juga. Pokoknya malam ini tidak boleh batal lagi. “Nggak enak sama Mamanya Kenny,” kata Mama. Urggg!

Mau tak mau, aku mengirimkan sms singkat ke nomor Kenny yang diberikan Mama. “Ken, ini Samantha. Mau ketemu di mana nanti?”

“Hai, Sammy. Kamu mau aku jemput? Kita ke cafe X ya.” Cafe X adalah tempat aku dan Julie sering nongkrong. Not a good idea. “Can we go somewhere else? I will go there by myself.”

“Kalo gitu, terserah kamu. Ada ide?”

“Ke Cafe A aja. See ya there at 8?”

“See you there.”

Tanpa basi-basi. Mungkin kami bisa berteman. Dari Mama aku dengar Kenny kuliah di luar negeri dan berhasil lulus cum laude. Sekarang dia sedang menekuni bisnis keluarganya. Mama bilang dia tampan. Jadi kukira dia berpenampilan lumayan.

Jam 8 tepat, aku sampai di cafe yang dimaksud. Sejam sebelumnya aku dan Kenny sudah saling berkutar informasi tentang busana yang kami pakai untuk mempermudah kami mengenali satu sama lain.

Kulempar pandanganku ke sepenjuru cafe. Pria dengan kemeja biru langit dan jeans hitam. Hanya ada satu pria yang memakai kemeja biru. Dan dia memandangiku begitu aku masuk. Kurasa itu dia. Senyumnya yang mengambang mengatakan aku tidak salah orang.

“Halo,” sapaku. Kami berjabatan tangan. “Hai, aku Kenny,” sapanya balik. Senyum sopan tersampir di bibirku. Kutarik kursi di depannya dan duduk manis. Dimulailah prosesi menjemukan ini, pikirku.

Untungnya Kenny bukan tipe pria yang ‘mau segera menikah atau menurut pada permintaan Mamanya.’ Dia malah bisa cukup menerima ketika aku mengatakan alasan kedatanganku hanya untuk menyenangkan hati Mama. Dan dia menerima ketika aku bilang aku sudah ada yang punya, namun masih belum berani memperkenalkan ‘calonku’ kepada orangtuaku. Bohong memang, tapi lebih baik begini.

“It’s okay. Tapi kalo tidak berkeberatan, aku ingin kita berteman. It’s hard to find somebody who I can talk to about things around here. If you don’t mind, of course?” Senyumnya mengambang lagi. Dia tidak jelek, dan lumayan enak diajak bicara, jadi mengapa tidak?

“It’s my pleasure,” jawabku. Dan malam itu, aku mendapatkan teman baru.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated

March 2010
M T W T F S S
« Feb   Apr »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  
%d bloggers like this: