Samn0body's Blog

Talk and Kiss

Posted on: February 5, 2010

Kemarin malam ketika aku sedang makan malam bersama Julie di sebuah restoran, tidak sengaja aku bertemu dengan seorang teman. Ternyata dia juga temannya Julie. Dia berkata dia senang bertemu dengan kami di sana, karena dia rencananya hanya akan makan sendiri. Julie dan aku saling lirik-lirikan dan tersenyum lucu. Bila aku dan Julie adalah pasangan pada umumnya, kau tau, pria dan wanita, teman kami ini tentu tidak akan berani menarik sebuah kursi ke meja kami. Dibayar pun, dia tidak akan mau. Jadi, di sana lah kami bertiga, sepasang lesbian dan seorang teman yang “had no idea at all”.

Ketika sampai di mobil, tawa kami pun tumpah. Dan sesudahnya, dia mengecup bibirku lembut, katanya “Lets always have this kind of laughter at all times.” Aku tertegun dan berfikir sejenak. “Maksudnya?” tanyaku.

“Kau tau, selalu bisa tertawa walau ada kerikil di jalan kita,” jawabnya. “Apa tadi itu kerikil?” tanyaku lagi. Julie menatapku dan wajahnya seolah mengatakan ada yang lucu.“Seharusnya sih bukan, tapi aku bilang, kalau saja nanti iya, kamu tetap bisa tertawa di sisiku. Beib, yuks jalan. Bibirnya si tukang parkir uda semeter tuh.” Aku melihat ke depan dan memang benar, mas parkir yang sedari tadi berdiri di dekat kami kini telah tidak sabaran.

Dengan cepat kustarter mobil dan melaju menuju rumah Julie yang terletak tak jauh dari tempat kami baru saja makan. Selama perjalanan kami berbincang-bincang kecil. Sebagian besar mengenai aktifitas kami seharian. Julie suka melakukan itu. Katanya, supaya kami selalu dekat. Aku tidak keberatan. Lagian, Julie yang lebih sering bercerita. Aku suka mendengarkannya. Bila kulihat-lihat, dia mirip dengan Renata, temanku. Dia juga pendongeng yang baik.

“Beib, kamu harusnya bisa bercerita lebih baik. Kamu kan nulis,” kata Julie. “Ngambil sastra lagi. By the way, kapan aku boleh baca tulisan kamu?” serang Julie tiba-tiba.

Aku berdeham tak penting. “Kamu mau baca tulisanku? Hm, that’s not a good idea, tulisanku tulisan ga penting,” jawabku.

“Why so?” tanya Julie. Aku bingung bagaimana menjawabnya. “Because it is just about stupid things that happen in my life. It’s too personal and not important.”

“You are now important for me, so your writing is important for me. Kecuali kalau ada sesuatu yang kau tidak ingin aku tau, seperti mantanmu, mungkin.” Julie kini menunggu aku.

“Bukan begitu,” kataku pelan. “Kau tau kalo kamu juga sekarang penting bagiku juga, bukan?” Okay, this is a cheap shot untuk mengalihkan pembicaraan dan sepertinya berhasil. Julie tersenyum manis dan menyapukan tangannya ke pipiku dan kemudian mendekatkan tubuhnya dan mengecup pipiku. Untungnya setelah itu kami sampai di depan rumahnya.

“Mau masuk? Kita bisa make out di kamar aku. Papa dan Mama sedang keluar kota,” kata Julie. Kutarik Julie ke dekatku dan kucium dia penuh nafsu. Lima menit kemudian, kami di kamarnya dan melanjutkan ciuman kami tadi.

Advertisements
Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated

February 2010
M T W T F S S
« Jan   Mar »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
%d bloggers like this: