Samn0body's Blog

Idol

Posted on: January 22, 2010

Abangku Lendi baru-baru ini membuat account di Facebook. Sebenarnya sudah jauh-jauh hari aku “berkicau” agar dia mengikuti arus dunia gaul. Semua alasan dari “bisa ketemu teman lama” hingga “mempermudah komunikasi (termasuk di dalamnya “ajang narsis”)” telah kunyanyikan untuknya, namun dia tidak pernah mengubris. Katanya ketika itu hanyalah, “Aku tidak butuh jadi anak gaul. Terlalu sibuk untuk melakukan hal-hal remeh.” Begitu katanya.

Namun beberapa minggu ini, aku telah dapat mengakses Wallnya. Dia memang masih belum mengganti foto profilenya, walau banyak foto-foto pernikahannya telah tersimpan di accountnya (hasil tag Tiffani, Velin dan aku). Dan abangku masih saja belum pernah mengepost status apapun. Wallnya benar-benar bersih dari suaranya sendiri.

Namun aku tau dia secara berkala mengunjungi dunia maya untuk melihat-lihat apa yang dipost orang lain di Wallnya. Dia juga sering memberikan comment pada postingan yang masuk. Aku malah kadang sering berbalas-balasan kata dengannya menggunakan sarana ini.

Sebenarnya, bila mau ditelaah, abangku dapat mengakses kehidupan pribadiku lewat status-status yang kuposting di facebook bukanlah hal yang bijak. Karena, kau tau, dia akan menggunakan kacamata “abang”nya dan mengamatiku dengan amat “brotherly”.

Aku sebenarnya suka dapat menyertakan dia dalam hidupku, kau tau, karena aku mau dia ada di duniaku sesering mungkin. Karena nasehatnya berarti bagiku. Karena aku dan dia memang sangat jarang berkomunikasi karena aktifitas kami berdua, dan karena jarak. Karena dia orang yang kuhormati dan sayangi.

Namun ketika dia menggunakan topeng abangnya, kadang aku merasa aku harus berhati-hati. Sejak aku mengakui keakuanku pada diriku sendiri, aku membayangkan apa yang akan dia lakukan jika abangku mengetahui tentang kecenderungan seksualku. Semua skenario telah aku mainkan di kepalaku. Dari reaksi yang ekstrim hingga yang bersahabat. Namun di setiap skenario aku mendapatkan kekecewaan terpancar dari matanya.

Abangku memang hanya lebih tua tiga tahun dariku, namun dalam hal karisma, aku lebih takut dan hormat padanya daripada pada Papa. Bukan karena dia lebih tua, atau karena dia menakutkan, tidak. Sungguh bukan itu. Tapi aku merasakan dia adalah panutanku. Dan pendapatnya penting bagiku. Mengecewakannya berarti aku melukai kepercayaan yang dia berikan padaku.

Kadang aku berfikir, seharusnya aku “normal”. Maksudku, aku memiliki tokoh panutan pria dalam keluargaku. Sesosok idola bahkan. Namun mengapa aku malah lebih tertarik pada wanita?

Advertisements
Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: