Samn0body's Blog

Masak dan Menikah

Posted on: January 18, 2010

Demi memberikan quality time untuk mama tersayang, aku duduk di meja makan mengamati gerak-gerik mama yang lincah di dapur. Sekali-sekali aku menjadi asisten mama, pekerjaan yang hanya sekedar menjadi tukang kupas, tukang potong, tukang cuci, tukang liat-liat. Dan itupun hanya sekali-sekali. Lebih sering aku duduk manis di depan laptopku yang kunyalakan dan kutaruh sama manisnya di meja makan. Sesekali juga aku menyeruput kopi dengan malas. Di sampingku ada hapeku yang bergetar dan berbunyi setiap beberapa menit. Aku sedang ber-sms-an maraton dengan Windy.

Mama sedang memasakkan makanan kesukaanku. Bakcang kukus (vegetarian tapi, karena Mama dan Papa sudah vegetarian murni), dengan jamur yang banyak. Dan telor kecap. Nyam, nyam! Bau sedap telah menyebar ke seluruh dapur dan ruang makan. Dalam waktu setengah jam bakcang siap disantap. Dan telor kecap siap dalam waktu 10 menit lagi.

Dulu aku pernah bermimpi untuk menjadi koki. Bahkan ketika aku kos di pulau Jawa, aku menjadi koki di kostku. Teman-teman yang lain selalu mengandalkanku ketika mereka sedang rindu masakan rumah. Walau tidak terlalu ahli, mereka sepertinya menikmati hidangan sederhana yang kubuat. Beberapa malah ketagihan. Hehehe.

Sekarang, ketika di rumah. Aku sama sekali tidak pernah memasak apapun, kecuali tentu saja memasak air dan mie instans. Papa hanya ingin makan masakan Mama. Aku juga lebih suka masakan Mama. Jadi, alhasil, tidak ada gunanya aku mengasah keahlianku di dapur, selain menjadi asisten mama, tentu saja.

Mamapun tidak pernah memaksaku untuk belajar memasak. Mama hanya berkata, “Kalau Mama masak, coba liat-liat. Sering-sering nanya cara masak, biar nanti setelah kamu menikah, kamu bisa masak buat suami dan anak-anakmu.” Ya. Ya. Ya. Hanya itu jawabanku.

Sesungguhnya, dalam hati aku ingin berkata, “Mam, aku tidak mau menikah. Menikah repot, harus masak dan ngurusin rumah. Lagian, aku tidak suka lelaki. Mending nikah sama wanita saja, ya, Mam.” Tapi kata-kata itu tidak pernah keluar dari mulutku. Dan mungkin tidak akan pernah.

Jadi, aku hanya mengangguk-anggukkan kepalaku dan menunggu dengan manis hingga masakan Mama dihidangkan di meja makan. Tentu saja sambil menunggu, kedua tanganku sibuk dengan hape dan laptopku. Dan secangkir kopiku.

Advertisements
Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: