Samn0body's Blog

Santy

Posted on: January 7, 2010

Aku pernah cerita tentang Santy? Dia muncul pagi ini di depan pintu rumahku, dengan muka kusut dan penuh masalah.

“Ada waktu?” tanyanya langsung. Aku terkejut ketika Mama memanggilku dan bilang ada teman yang mencariku. Dengan tanktop dan celana pendek, aku keluar dan mendapatkan temanku, Santy, telah duduk di ruang tamu dengan jaket dan tas masih bertengger di bahunya.

“San, tumben datang? Ada apa?” tanyaku. Santy tidak berkata apa-apa, dia hanya memandangiku dan kemudian memandangi jalan di luar. Dia sedang ada masalah, radar pertemananku langsung menyala.

“Masuk ke dalam yuk. Aku bikinin teh. Yuk,” ajakku. Santy mengangguk dan sesampainya kami di sofa di ruang keluarga, tangisnya meledak. Tangisnya bukan tangis yang meledak-ledak karena ini bukan tangis yang pertama.

Setengah jam aku mendengarkannya bercerita tentang masalahnya dengan suaminya. Dia tidak spesifik dalam menceritakan permasalahan mereka berdua, “Suamiku tidak ingin orang lain tahu soal ini, dan aku juga tidak bisa membicarakan masalah ini lebih spesifik ke kamu, karena hal ini sungguh memalukan,” kata Santy sambil menghapus air matanya.

Dalam hati aku ingin berkata, “Lebih baik kamu menceritakan masalahmu selugas-lugasnya karena otakku berspekulasi yang tidak-tidak, antara KDRT, permasalahan ekonomi, sexual abuse, hingga perselingkuhan.” Tapi aku menyimpan hal itu untuk diriku sendiri.

Aku lebih menjadi pendengar yang baik karena itu adalah salah satu bakat yang kumiliki. Seharusnya aku menjadi psikiater, dan aku mungkin telah menjadi psikiater bila Mama tidak melarangku mengambil jurusan Psikologi. “Nanti kamu harus menghadapi orang gila setiap hari, tidak usah saja,” begitu komen Mama ketika itu. Well, karena Mama yang membiayai kuliahku, akhirnya aku mengambil jurusan Sastra Inggris, pilihan keduaku.

Kembali ke Santy. Terakhir kali aku bertemu dengannya adalah ketika aku menghadiri pesta selamatan rumah barunya. Ketika itu aku sama sekali tidak menyadari ada permasalahan antara dia dan suaminya. Mereka memang tidak semesra pasangan baru menikah yang lain, tapi mereka juga tidak … Hmm, setelah dipikir-pikir lagi, mereka memang tidak menunjukkan hubungan yang harmonis lagi.

Biasanya, pasangan yang baru menikah dua tahun dan baru memiliki bayi akan saling menunjukkan aura cinta di antara mereka. Sadar maupun tidak. Tapi antara Santy dan suaminya, mereka lebih mirip pasangan yang telah menikah sepuluh tahun dan terlalu sibuk masing-masing untuk saling menunjukkan perhatian kepada pasangan mereka.

Tanpa bisa memberikan solusi apapun, karena semua solusi yang kupaparkan ditolak dengan alasan berbeda-beda, akhirnya kami berdua saling berpandangan dan tersenyum lemah.

“Are you okay now?,” tanyaku. Kuraih tangannya dan kugenggam erat. Dia meremas tanganku dan akhirnya melepaskannya.

“Yeah, I am a bit okay now. Thanks, Sam. Anyway, lets go eat. I am hungry,” katanya. Suaranya telah kembali ke nada asalnya. Ceria dan optimis.

“Ayo, aku juga lapar.”

Di rumah makan, kami bercerita tentang teman-teman kami semasa SMA. “Jadi sekarang kamu malah sering hang out sama Wani cs ya?” tanya Santy.

“Yup, ‘bis sisa mereka yang masih senasib sama aku. Single.” Aku tertawa kecil. Dia juga tertawa kecil. “Wani bagaimana? Lama aku ga cerita-cerita sama dia. Sebenarnya aku ingin pergi ke rumahnya, tapi aku tidak ingin memperburuk pemikirannya tentang pernikahan. Bisa-bisa dia benar-benar tidak mau menikah. Btw, kamu nyadar ga sih kalo Wani itu ada masalah sama relationship?”

“Kalau itu, aku tentu tau. Dia bilang sendiri, dia tidak mau nikah,” kataku. “Kurasa itu karena pernikahan Almarhum Mama dan Papanya tidak berjalan baik,” sambungku.

“Iya. Kamu tau kalau Papanya punya dua istri?” kata Santy lagi.

Aku berhenti mengaduk-ngaduk makananku dan menatapi Santy. “Kamu yakin?” tanyaku.

“Iya, malah saudara tirinya juga teman kami sendiri,” kata Santy, “tapi Wani tidak pernah mau mengakui bahwa dia adalah adik tirinya. Dia hanya menganggapnya sebagai teman.”

Aku tertegun dan tidak berkata apa-apa. Ternyata aku tidak tahu banyak tentang teman dekatku Wani.

“Wani juga ada masalah dengan sifatnya yang sangat posesif, kau tau?” lanjut Santy. “Itu aku juga tau,” kataku memaksakan sebuah senyuman. Teringat lagi aku akan perubahan sikap Wani ketika aku mulai dekat dengan Windy. Aku tersenyum-senyum sendiri.

“Ada yang lucu?” tanya Santy.

“No, nothing big,” jawabku. “Ayo cepat selesaikan makanmu, habis ini kita pergi hunting dvd. Aku sudah kehabisan stok tontonan.”

Advertisements
Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated

January 2010
M T W T F S S
« Dec   Feb »
 123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
%d bloggers like this: