Samn0body's Blog

Temanku

Posted on: December 21, 2009

Ketika aku SMA, ada seorang teman wanitaku yang menyatakan rasa sukanya kepadaku langsung di hadapanku. Dalam otakku saat itu, “Bagaimana dia tau aku pernah suka seorang wanita?” Kami tentu saja tidak pernah menjalin hubungan lebih daripada teman.

Mari kita sebut saja namanya Santy. Dia adalah murid transferan dari Jakarta ketika kelas satu. Badannya yang besar dan menjulang tinggi membuat semua orang menyadari keberadaannya. Dan logat bicaranya yang tidak biasa membuat teman-teman sekelas langsung mengingat namanya.

Kelas satu. Semua masih canggung, terutama aku yang notabene tidak berasal dari SD dan SMP yang sama dengan sebagian besar murid-murid di kelasku maupun di kelas-kelas yang lain.

Jadi aku yang duduk sendiri di belakang, menerawang keluar jendela, terkejut ketika sosok populer itu berhenti di bangkuku. “Boleh gue duduk di sini?” Beberapa detik aku memandanginya dan tidak berkata apa-apa. Namun aku mengangguk kemudian dan dia meletakkan tasnya yang super besar ke atas meja. Aku menggeser kursiku agak ke samping untuk memberikannya ruang lebih.

“Gue Santy. Loe?” tanyanya sambil menyodorkan tangannya. Kusambut tangan itu dan kami berjabat tangan. “Samantha,” jawabku sambil tersenyum ringan. “Senyum loe bagus,” pujinya. Kurasa pipiku merona merah karena dia tertawa kecil.

“Aku Gabby. Ini Indi,” Gabby yang duduk di depanku menggeser pantatnya dan menghadap ke belakang sambil menyeloteh. Aku lebih banyak mendengarkan mereka bercengkrama. Pikiranku ketika itu lebih banyak memikirkan di mana Windy. Dia mungkin melanjutkan pendidikannya di sekolah yang kutinggalkan, atau mungkin dia tidak bersekolah lagi dan mulai bekerja.

Karena tempat duduk kami yang bersebelahan dengan jendela, aku lebih banyak memandang keluar atau hanya menikmati sapuan angin sepoi-sepoi pada sore hari. Suatu hari dia menggenggam tanganku tiba-tiba. “Sam, kok kelihatan selalu sedih sih? Ada apa? Loe bisa bicara ke gue kok. Gue mau jadi teman baik loe.”

She caught me off guard at that time. Aku hanya melongo memandanginya. “Kenapa memang? Ga boleh gue jadi teman baik loe?” tanyanya lagi. Aku menggelengkan kepalaku seketika. “Bukan. Maksud aku, kita bisa berteman. Terima kasih.”

Dia tertawa nyaring. “Kok berterima kasih sih?” katanya setelah selesai tertawa. Beberapa teman memandangi kami. Aku tidak suka dipandangi seperti itu. “Habis kamu tiba-tiba ngomong kaya gitu. Aku ga tau harus bilang apa,” jawabku.

“Bilang aja ‘ok’. Susah banget,” katanya. “Ok,” jawabku.

Berikutnya pertemanan kami semakin erat. Dia sering main ke rumahku setelah pulang sekolah. Dia memonopoli aku dari teman-teman lamaku. Pada akhir pekan dia mengharuskan aku main ke rumahnya hingga sore. Intinya, ke manapun aku pergi, dia selalu ada di sampingku.

Berteman dengan Santy sebenarnya menyenangkan. Dia pintar dan sangat ceria. Namun kadang dia bisa benar-benar rendah diri dan membuatku ingin menguncang badannya.

Hingga pada suatu hari. Di halaman sekolah sepulang sekolah. Hari sudah mulai gelap.

Santy (S): Main ke rumah gue besok?

Aku(A): Nggak. Teman-teman SMPku ngajak kumpul di rumah mereka. Minggu depan aja main ke rumah kamu.

S: Kok gitu? Kan loe uda janji.

A: Hah? Kapan?

S: Kan setiap Minggu main ke tempat gue, jadi gue kira Minggu ini juga.

A: Teman-teman SMPku ngajak kumpul. Masa’ aku nolak. Aku juga rindu sama mereka.

S: Oh, jadi mereka lebih penting dari gue?

A: Apa sih, San. Kamu kok jadi aneh kaya gini? Norak deh.

S: (Diam, seolah ingin menangis) Sam, kenapa loe nggak ngerti. Gue sayang sama loe. Gue mau selalu bareng loe.

A: (Diam, berkeringat dingin) Santy, kita ini teman. Tapi aku ada teman yang lain. Cuma Minggu ini aja aku ketemu mereka.

S: Loe nggak ngerti. Gue sedang bilang ke loe, gue cinta loe.

A: (Diam. Pucat) Jangan begini. Kita teman. Dan akan selamanya berteman. Bila kamu nggak bisa, kita sebaiknya ga usa berteman lagi.

Santy tidak mengatakan apa-apa. Dia menyelonong pergi. Lusanya, dia berganti tempat duduk dengan dengan Gabby. Selama kelas 1 dia berusaha tidak berbicara denganku dan aku menuruti kemauannya.

Baru ketika kelas 3 kami mulai berteman lagi. Kami masih berpura-pura melupakan insiden ketika kelas 1.

Sekarang, ketika aku menerima undangan selamatan rumah barunya, aku tersenyum lucu sendiri. Wanita itu, wanita yang dulu dengan lugunya menembakku, sekarang telah bersuami dan beranak satu.

Advertisements
Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated

December 2009
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: