Samn0body's Blog

Labil

Posted on: December 11, 2009

Telepon masuk. Windy. Aku sedang di dalam mobil bersama dengan abang dan Tiffani dan keluarganya. Sekarang bukan saat yang tepat untuk menerima telepon. Busy tone kunyalakan.

Segera setelah itu aku meng-sms Windy. “Sorry, tidak bisa terima telepon sekarang. Nanti aku yang telepon aja ya.”

Setengah jam kemudian, dia meneleponku lagi beberapa kali. Ketika aku sudah berada di dalam rumah, karena tadi ku-silent hapeku, aku baru menyadari 6 miscal darinya setelah aku dapat melarikan diri dari acara bincang-bincang keluarga. Dengan sigap aku menghilang ke lantai atas dan menghubungi Windy.

W: Halo?

A: Hai, lagi ngapain?

W: Lagi di rumah aja, di kamar, nonton. (Suaranya tidak menyiratkan bahwa dia kesal)

A: Sorry tadi.

W: Nggak masalah kok. Sibuk ya?

A: Iya, besan pada datang semua. Jadi aku bantu-bantu. Tapi sekarang tugasku untuk menghidangkan teh sudah selesai. Istirahat sebentar.

W: Oh. (diam)

A: Sudah makan?

W: Sudah tadi. Kamu?

A: Sudah, tadi bareng keluarga besar.

W: Oh. (diam)

A: Lagi nonton apa?

W: Biasa, acara TV “Take Me Out.”

A: Waduh, itukan acara gadungan. Sinetron berkedok reality show tuh.

W: (tertawa kecil) Biarin aja. Habis ga ada tontonan yang lain.

A: (tersenyum) Kalo gitu, nontonin aku aja.

W: Dasar.

Samar-samar kudengar suara abangku Rizal dan Tiffani, calon kakak iparku.

A: Wind, nanti aku telepon lagi ya. Abangku naik.

W: Ok. Nanti lagi aja.

A: Ok, bye.

W: Bye.

Walaupun sedang memberikan tour kepada kekasih hatinya, aku tahu abangku mengamati gerak-gerikku. “Ini kamar gue, sekarang dipakai sama Sammi. Mantan kamar Sammi yang ini, tapi sekarang dipake sama tante kami,” jelas abangku.

“Lagi dikasi tour nih sama Ko Lendi?” basa-basiku.

“Iya nih,” jawab Tiffani manis.

Tanpa banyak basa-basi lagi, aku berlalu dan turun ke bawah, meninggalkan mereka yang baru saja berjalan masuk ke dalam kamarku.

Segera setelah mereka semua pulang, aku ingin menelepon Windy kembali, namun adikku yang ranjangnya menjadi tempat istirahatku beberapa hari ini mengamati setiap gerak gerikku. Sial! Akhirnya aku memutuskan untuk tidur saja.

Dalam kelelahan badan dan batin, sambil terbaring aku menelaah ulang perasaanku. Apakah aku sungguh mencintai dia. Apakah aku berani coming out demi dia? Apakah aku tega membuat orangtuaku kecewa dan sedih? Apakah aku sungguh mencintai dia sebesar itu hingga melukai keluarga yang mencintaiku selama dua puluh enam tahun ini tanpa pamrih?

Demi cinta yang rentan ini, apakah aku dapat melukai cinta yang telah diberikan keluargaku seumur hidupku?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated

December 2009
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: