Samn0body's Blog

Saingan

Posted on: December 9, 2009

Sore ini, permasalahanku dengan Gabby benar-benar menguap bak uap air. Sore ini seharusnya aku tidur saja di rumah sambil berniat mengerjakan tugas yang kubawa pulang. Windy meneleponku dan mengajakku keluar. Sebelum aku bertanya ke mana dan dengan siapa saja, aku sudah mengiyakannya. Sungguh seperti seekor anak anjing.

Windy (W): Keluar yuk

Aku (A): Ayuk.

W: Bentar lagi aku menuju tempat Susan, kamu menyusul ya. Nanti kita mau main badminton bareng-bareng teman-teman biasa.

A: Rame-rame ya?

W: Iya. Lima belas menit lagi paling aku sampai di sana. Aku tunggu ya.

A: Hm…

W: Kenapa?

A: Nggak. Ya sudah. (lemas)

W: Sampai ketemu nanti.

A: Iya, sampe ketemu.

Satu jam kemudian, semua telah berkumpul di rumah Susan, termasuk Bobby yang sepertinya semakin gencar mendekati Windy. Aku benar-benar merasa ingin pulang dan tidur saja.

A: Win, aku pulang saja ya. Ngantuk banget, pusing.

W: Loh, kan kamu kemarin bilang waktu di Jakarta kamu sering main badminton, makanya aku ajak teman-teman buat main.
A: Ini buat aku?

W: Iya, dan juga buat semua. (berbisik) Biar semua bisa bakar lemak. (tersenyum)

A: (tersenyum lemah) (telepon berbunyi) Halo?

Wani: Hai, Jelek. Lagi di mana? Keluar yuk. Aku bosan di rumah.

A: Keluar? Aku lagi mau pergi main badminton nih.

Wani: Beneran? Ikut boleh?

A: Hmmm.. harusnya sih ga apa-apa. Bentar ya. Wind, temanku mau ikut, boleh?

W: Boleh boleh aja. Tapi suruh dia berangkat sekarang yah.

A: Ok. Wani, datang aja langsung. Di jalan Diponegoro. Tau ga?

Wani: Tau. Tau. Ok, aku sampe di sana 30 menit lagi.

A: Ok, bye. (panggilan dimatikan) Beneran ga apa aku ajak teman?

W: Ga apa lagi. Semakin rame semakin seru.

Dengan lemas aku mengikuti gerombolan Windy dan menuju GOR Badminton. Sesampainya di sana, mereka langsung riang dan melakukan pemanasan. Aku memesan kopi panas dan duduk di pinggir sambil menghirup kopiku. Windy duduk di sampingku, mengajakku bicara sambil menunggu giliran. Kami hanya menyewa satu lapangan dan yang datang 6 orang, belum ditambah dengan Wani.

Setibanya Wani di sana, beberapa teman yang lain sudah minta ganti giliran. Tak salah memang Windy mengatakan mereka butuh olahraga. Belum berapa menit saja mereka sudah ngos-ngos-an. Aku, Windy dan Wani langsung menuju lapangan dan melakukan pemanasan kecil. Kami bermain ganda kemudian. Aku dan Windy, Wani dan Bobby.

Dalam situasi manapun, bila di sana harus ada yang menang dan yang kalah, aku selalu bersifat sangat kompetitif. Apalagi di sana aku melihat ada kesempatan untukku men-smash Bobby. Namun karena kemampuan Windy yang boleh dibilang pemula, aku terpaksa mengakui kekalahanku, maksudku kami.

Bobby benar-benar memanfaatkan kelemahan tim kami. Dan ternyata dia juga sangat kompetitif. Maksudku, untuk tipe seorang pria, seharusnya bila melawan wanita, dia seharusnya tidak men-smash sekeras itu. Bila tidak memandang Windy dan Wani, kami berdua pasti sudah seperti main permainan tunggal dengan saling berbalas-balasan smash.

Pada akhirnya, mereka menang tipis. Sial! Aku semakin bete. Akhirnya setelah kalah 1-2, aku menuju kursi dan memesan secangkir kopi lagi. Wani dan Windy mengikutiku dan duduk di kiri dan kananku.

Windy (WI): Jangan kopi lagi. Ga sehat.

Aku (A): Pusing nih.

WI: Gara-gara kalah? Aduh, aku benar-benar lupa, kamu orangnya tidak mau kalahan gitu. (tertawa kecil)

A: Enggak kok…

Wani (WA): Nggak apanya? Kemarin aja kamu ga rela diduluin cowok-cowok pas di lampu merah kemarin.

A: Apaan sih. Mana ada. Dasar nenek tukang fitnah. Hati-hati loh, masuk neraka trus lidah kamu dipotong-potong ma dewa kematian.

WI: (tertawa lepas)

WA: Benar kok, kemarin ingat? Pas kita keluar kemarin sore, habis jogging. Ada motor di depan kita. Nge-gas gitu nantang balapan. Kamu langsung tancap gas dan nggak ngebiarin mereka mendahului kita kan.

WI: Tuh kan, terbukti. (tertawa)

A: Mana ada.

Mereka berdua tertawa keras. Sakit kepalaku rasanya semakin membaik. Namun semakin bercanda bertiga, aku merasa Wani duduk semakin dekat di sampingku dan Windy sibuk berbalas-balasan sms dengan teman lain. Tak lama kemudian hapenya berbunyi dan dia langsung mengangkatnya. Dari Julia.

“Sial! Sial! Sial!” rutukku. Telingaku kutajamkan benar-benar mendengarkan pembicaraan Windy dengan Julia.

Aku benci cara Windy yang berbicara dengan Julia sama seperti ketika dia berbicara denganku. Aku benci Windy mengajak Julia ikut bergabung (walau Julia menolak) seperti dia mengajakku bergabung.

Semakin lama aku merasa hubunganku dengan Windy semakin mirip cerita dalam sinetron.

Dengan geram dan penat, aku berdiri dan meneguk habis kopiku dan berjalan ke arah lapangan dan menantang Bobby main berdua. Kali ini tidak akan ada ampun lagi. Latihanku selama setahunan di Jakarta seharusnya cukup untuk mengalahkan pria berperut buncit ini.

Dalam waktu kurang dari setengah jam, Bobby yang telah kubuat kelimpungan mengejar bola ke kiri dan ke kanan, ke depan dan kemudian ke belakang akhirnya mengaku kalah dariku. Skornya memang masih tipis, tapi aku dapat merasakan nikmatnya menang.

Advertisements
Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated

December 2009
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: