Samn0body's Blog

Di Atas Awang

Posted on: December 8, 2009

Aku tidak tau sejak kapan jantungku mulai beradaptasi dengan kehadiran dan sentuhan Windy. Aku mulai bisa mengontrol keringat di telapak tanganku. Aku juga bisa merilekskan badanku ketika dia sedang menyenderkan badannya dekat sekali denganku. Aku bisa melontarkan lelucon-lelucon ringan ketika aku bersama dia, seperti tadi.

Malam minggu. Aku duduk sangat dekat di sampingnya. Di depan kami laptopnya sedang menyala. Adik, papa dan mamanya di ruang sebelah sedang menonton acara di televisi. Sesekali dia menyentuh tanganku dan merapatkan sisi tubuhnya ke sisi tubuhku. Tapi aku masih dapat berkonsentrasi mengetik.

Aku sedang membantunya memperbaharui resume dan surat lamaran kerjanya. Dia hanya menjawab pertanyaan-pertanyaanku. Aku mengetik semua informasi yang dia berikan dan mengolah semua info itu ke dalam bentuk resume yang rapi dan menarik. Surat lamaran baru juga kuketikkan andai kata dia akan menggunakannya dalam waktu dekat.

Jam sudah menunjukkan jam 9 ketika kami selesai. Orangtuanya sudah masuk ke kamar ketika itu. Hanya adik perempuannya yang masih betah di ruang sebelah. Ternyata adiknya suka acara Extravaganza juga.

Aku merenggangkan badanku ketika akhirnya kumatikan laptopnya.

“Tinggal diprint,” kataku.

“Iya. Thanks, Sam. Kalo ga ada kamu, pasti ga selesai-selesai.”

“Bukan masalah. Cuma bantuan kecil saja kok,” kataku.

“Mau kubuatkan teh panas?”  tanyanya.

“Ga usah. Uda malam nih, sebaiknya aku pulang. Ga enak sama orangtua kamu,” kataku.

“Iya, nanti kamu juga kemalaman,” katanya. Bila kami berada di Jakarta, jauh dari orangtua, tentu situasinya akan berbeda jauh, pikirku. Namun kami memang tinggal di kota kecil dimana setelah jam menunjukkan jam 9 malam, hampir semua aktifitas perekonomian masyarakatnya berhenti, diikuti dengan aktifitas di sektor lain.

Dia mengantarku keluar. Ingin rasanya aku mengecupnya selamat malam, namun semua ini terlalu cepat. Walau kami sudah selayaknya pasangan kekasih ketika di telepon, tapi kami bukanlah kekasih. Aku hanya dapat memandanginya lekat dan memberikannya senyuman termanisku sambil mengucapkan selamat malam padanya. Dia menungguku masuk ke dalam mobil dan mengawasiku menghidupkan mesin mobil dan mengendarakannya menjauh dari rumahnya. Aku mengawasinya dari spion samping.

Dia meneleponku beberapa menit setelah aku tiba di rumah. Kami ngobrol seperti malam-malam sebelumnya. Besok kami akan bertemu lagi. Setelah dia pulang dari gereja.

Aku menyadari satu hal. Bila dulu aku menganggap Windy seperti lampu lalu lintas berwarna kuning, sekarang dia berwarna hijau. Apakah aku sudah boleh merasa di atas awang?

Advertisements
Tags:

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated

December 2009
M T W T F S S
« Nov   Jan »
 123456
78910111213
14151617181920
21222324252627
28293031  
%d bloggers like this: