Samn0body's Blog

Mengapa cinta sesakit ini?

Posted on: November 23, 2009

 

 

 

 

 

Tidak tahan dengan perasaan desperate dan needy, akhirnya aku meng-sms Windy setelah pulang dari jogging bersama Wani dan Vina. “Lagi ngapain? Sibuk?”

 

Tak lama kemudian dia meneleponku. “Hei,” jawabku.

“Kamu di mana sekarang?” tanyanya

“Di rumah. Kamu?”

“Di cafe yang kemarin kamu bilang. Ke sini dong, kita mau karaokean di NAV, kami tunggu ya.”

“Apa? Sama sapa aja?”

“Sama Julia dan teman-teman lain. Ke sini ya?”

Aku melihat kesempatan untuk bersamanya. Tanpa ragu aku langsung mengiyakan dan mencari kunciku.

Ketika aku tiba di cafe, aku mendapati dia hanya bersama Julia, teman SD dan SMP kami juga.

“Hai, Jul, Wind,” sapaku. Aku sedikit terkejut, kusangka akan banyak teman yang ada di sana. “Yang lain di mana?” tanyaku begitu aku duduk dan selesai bersalaman dengan Julia yang terakhir kutemui kala reuni.

“Mereka dalam perjalanan. Aku belum makan, jadi kami makan dulu di sini, setelah selesai, kita nyusul mereka ke NAV,” jelas Windy. Julia mengamatiku dan aku merasa tidak nyaman. Aku tahu dari teman-teman kalau Julia adalah lesbian. Dia satu genk dengan Zhang bahkan, tapi aku tidak pernah bertemu dengannya ketika aku dulu hang out bersama mereka.

“Sam, kita uda lama ga ketemu ya. Tambah manis aja kamu,” puji Julia. Aku tersenyum sopan. Kami bercakap-cakap. Dan yang aku maksudkan dengan kami ada aku dan Julia. Windy sibuk menerima telepon dari teman-teman yang lain.

 

Semakin waktu berlalu aku menyadari satu hal. Julia di sini bukan tidak sengaja. Tiba-tiba hatiku pedih. Apakah Windy mencomblangkanku dengan Julia?

 

Ketika kami ke Happy Puppy (NAV was fully booked, jadi kami ganti tempat), teman-teman yang lain telah tiba duluan. Suara bising musik menyambut kedatangan kami. Di antara teman-teman sesekolah kami dulu, ada seorang pria, Bobby namanya. Susan, teman kami yang lain, memperkenalkan Bobby sebagai pacar Windy.

Sungguh aku ingin pergi saja dari sana dan pulang. Hatiku tercabik-cabik. Aku merasa susah bernafas. SAKIT! BENCI!

 

Ketika semua sibuk menikmati waktu mereka, aku merasa terlalu sesak dan akhirnya keluar dari ruangan. Windy duduk sangat dekat sekali dengan Julia yang kini sudah bermanja-manjaan dan memeluk Windy seperti seorang adik ke kakak perempuannya.

Aku mendial sebuah nama dan menunggu hingga panggilanku dijawab.

“Halo?”

“Gab?”

“Sam? Lagi di mana? Ribut banget di sana? E, kebetulan kamu telepon, tau ga..” sebelum Gabby sempat meneruskan kalimatnya aku sudah memotongnya.

“Gab, I wanna cry right now.” Sepertinya Gabby terkejut karena tidak ada balasan darinya selama beberapa menit. Sedetik kemudian dia langsung menalar dan mengerti apa yang sedang terjadi.

“What happened?”

“Dia.. dia punya pacar, Gab. Dan dia sepertinya nyomblangin aku dengan cewek lain.” Kalimat itu keluar dari mulutku dan setiap katanya menorehkan luka yang lebih dalam lagi ke hatiku.

“Apa? Pacar dia cewek atau cowok? Kata kamu dia single?”

“Pacar dia cowok, berperut besar. Tadi temanku yang lain yang perkenalin aku ke pacarnya itu. Gab, I feel like crying now,”  aku berusaha untuk masuk ke toilet, namun di dalam ada orang. Jadi aku berjalan ke arah tangga, ke tempat yang jauh dari orang-orang.

“Ambil nafas, Sam. Tarik nafas panjang. Jangan nangis di sana. Kamu di luar ruangan sekarang?”

“Yah.”

“Bagus. Kamu bisa ke WC sekarang?”

“Ga bisa, ada orang.”

“Sekarang kamu di mana?”

“Di dekat tangga. Nafasku sesak, Gab,” kataku.

“Tarik nafas perlahan, Sam.” Gabby mengarahkan perintah-perintah sederhana untuk membantuku menenangkan diri. Selama semenit kami tidak membahas tentang apa yang sedang terjadi. Semenit kemudian aku merasa baikan dan akhirnya bisa berbicara dengan nalar lagi.

“Gab, this is fucking hurtful, and I don’t want to go back in,” kataku akhirnya.

“Ayolah, kamu pasti sudah setidaknya menyadari bahwa kalian tidak akan ada masa depan.”

“Sam, lagi teleponan ma sapa?” tiba-tiba suara dari belakangku membuatku terkejut. Windy, dia keluar. “Udahan dulu yah, telepon lagi nanti,” kataku cepat ke Gabby.

“Ok, talk to you later. I will wait.”

Aku mematikan telepon. “Teman. Dia perlu nanya sesuatu soal kerjaan.” Windy hanya mengangguk dan mengajakku masuk kembali.

 

Aku mengikuti Windy kembali masuk ke ruangan itu, namun kali ini, dia menemaniku dan duduk di sampingku dengan menaikkan kakinya ke pangkuanku, menyandarkan kepalanya di bahuku untuk mencari kehangatan. Ruangan itu memang terlalu dingin.

 

Aku yang tadi sakit hari sekarang kebingungan. Apa yang sedang terjadi?

 

Advertisements
Tags: , ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated

November 2009
M T W T F S S
    Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d bloggers like this: