Samn0body's Blog

Second Opinion

Posted on: November 16, 2009

eyess

 

 

 

Aku: Kamu mau apa??

Gabby: Aku cuma mau minta second opinion aja dari seorang psikolog soal perasaan loe ini. Psikolog ini jadi penasehat rohani gerejaku. Jadi gratis.

Aku: I don’t want it, Gab.

Gabby: Ayolah, kita berdua kan tabu soal perasaan loe yang ini. Aku mau bantu, tapi aku ga tau apa yang aku sarankan ke kamu benar apa ga. Lagian, it will not hurt you. Kan dia ga kenal kamu yang mana, Sam.

Aku: I don’t like this.

Gabby: Sam, ayolah. You know I do this for you.

Aku: (diam)

Gabby: Sam.

Aku: I still don’t like it.

Gabby: Thanks.

Aku: You shouldn’t say that. I should.

Gabby: (ketawa)

Aku: Jadi, apa yang akan kau aduhkan tentang aku ke psikologmu itu?

Gabby: (ketawa lagi) Semuanya.

Aku: Waduh, keringat dingin gue.

Gabby: Makanya jangan nakal.

 

Semua yang aku takutkan dari curhatku ke Gabby muncul sudah. Pertama dia akan membawa nama psikolog, kemudian psikolog ini akan membawa nama Tuhan. Kemudian, Gabby akan melihat semua ini dari sisi religiusnya dan kemudian dia akan membuatku merasa apa yang kurasakan adalah dosa dan bahwa aku harus berhenti dan kembali ke jalan yang benar.

 

Aku tidak ingin berargumen soal agama dengan Gabby karena kami berdua sungguh tidak dapat menemukan titik temu dari kepercayaan kami. Pada akhirnya aku akan masuk neraka dan dia akan mendoakanku setiap hari. Namaku akan masuk dalam doa puasanya. Aku akan merasa tidak nyaman, dan kemudian hubungan kami akan sedikit merenggang karena harapannya dan ketidakperdulianku, dan kemudian setelah sekian lama, kami akan berhubungan seperti biasa lagi, seolah tidak ada yang terjadi. Sama seperti dulu aku memutuskan untuk berganti agama ke agama nenek moyangku, dan lepaskan kekristenanku.

 

Aku sayang Gabby, sungguh, karena dia sahabat keduaku yang benar-benar mengenal diriku dan menerima aku apa adanya, teman yang selalu ada dan tidak pernah absen dan menghilang. Dan dia satu-satunya teman yang kini dapat kuajak cerita mengenai Windy. Aku sungguh tidak ingin kehilangan dia ketika aku masih labil dengan Windy. Aku ingin dia ada ketika nanti aku perlu teman untuk menemaniku menangis.

 

Jauh di dalam lubuk hatiku, aku tau, sekali lagi, cinta yang kali ini kurasakan adalah cinta yang seperti dulu. Cinta yang sekali lagi tidak berbalas. Tapi aku tidak ingin memikirkannya sekarang, karena euforia cinta ini membuatku melayang dan aku tidak ingin melewatinya. Seperti ekstasi. Aku tau cinta ini akan membunuhku nanti, namun rasa senang ini terlalu nikmat untuk disia-siakan begitu saja.

Advertisements
Tags: ,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Top Rated

November 2009
M T W T F S S
    Dec »
 1
2345678
9101112131415
16171819202122
23242526272829
30  
%d bloggers like this: