Posted by: samn0body on: May 25, 2010
Kemarin malam aku menemani Wani ke pesta pernikahan teman kerjanya yang dulu. Acara seperti ini biasanya aku tidak suka, namun bersama Wani, ini lebih terasa seperti pergi ke cafe. Bedanya semua gratis, kecuali amplop berwarna merah yang ditinggal oleh Wani di meja penerima tamu. Dan tentu saja, pakaian yang kami kenakan lebih tidak casual dari biasanya.
Sehabis dari undangan, aku diundang ke pesta perpisahan seorang teman. Aku mengundang Wani juga, namun dia tidak ingin. Aku tidak ingin memaksanya. Sudah lama Wani tidak merasa comfort hang out dengan teman-teman SMPku. Dulu aku mengira itu karena ada Windy, namun sepertinya bukan.
Anyway, pesta perpisahan itu diadakan di NAV. Tempat nongkrong favoritku. Sebenarnya motif besar aku mau ikut ke pesta perpisahan itu adalah karena lokasinya. Hahaha. Aku, sama seperti Wani, tidak terlalu kenal dengan teman yang menyelenggarakan pesta itu. Masih ingat dengan pria yang dulu dicomblang-comblangin dengan Windy? Ya, dia!
Baru aku tau kemarin dia diterima kerja di perusahaan lain, dan dia akan ditempatkan di kota kelahirannya di Bandung. Sebenarnya memang sudah lama dia ingin kembali, seperti yang aku dengar dari teman-teman yang lain. Namun dengan kepergian Windy ke Jakarta, sepertinya dia memiliki satu lagi alasan. Dan sialnya, aku merasa terancam. Bukannya aku pikir Windy akan menerimanya atau apa, namun aku hanya tidak suka Windy menghabiskan waktu dengannya.
Ok, aku cemburu. Bukan karena aku pikir Windy suka dengannya. Tapi aku cemburu karena dia laki-laki dan dia dapat dengan bebas mendekati Windy tanpa orang lain berfikir yang negatif tentangnya. Aku benci ketika dia dapat mengungkapkan rasa sukanya kepada Windy dengan mudahnya, sedang aku harus menyembunyikan rasa yang sama dari pandangan teman-teman yang lain. Aku benci keadaan ini. Aku benci aku tidak memiliki hak yang sama. Aku benci aku bukan laki-laki.